Opinion

Beranikah Brand Citranya Diacak-acak oleh Content Creator?

123rf

Saat ini menjadi viral adalah salah satu indikator yang harus dicapai oleh brand ketika melakukan kampanye. Untuk bisa mencapai target viral tersebut beberapa brand banyak menggaet media dan para content creator.

Kolaborasi diantara mereka ini sudah semakin jamak. Brand memiliki tema utama dan tujuan yang ingin dicapai. Lantas para content creator akan menerjemahkannya sesuai dengan karakter dan pangsa pasar masing-masing.

Namun, komunikasi antara brand dengan content creator tidak selalu berjalan mulus. Terkadang content creator harus merelakan idelalisme mereka, karena paksaan brand. Atau komunikasi yang diinginkan oleh brand tidak bisa ditangkap dengan jelas oleh content creator. Tentunya ini merupakan isu yang harus bisa diselesaikan secara bersama-sama oleh kedua pihak.

Bahkan, beberapa brand justru baru bergerak ketika brand mereka terlebih dahulu diplesetkan oleh para content creator atau influencer. Setelahnya brand baru masuk untuk ke dalam kampanye tersebut untuk membuat gerakan, istilahnya adalah riding the momentum.

Saat ini salah satu video yang sedang viral adalah video yang dirilis oleh akun YouTube Feel Koplo pada pertengahan Februari lalu. Kelompok yang terkenal suka membuat konten video dengan nuansa dangdut koplo ini baru-baru ini mereka ulang jingle dari sebuah brand obat perih lambung.

Dalam video tersebut Feel Koplo membuat konten dengan judul Sobat Perih (Feel Koplo edit) yang berkaitan dengan permasalahan orang ketika sakit perut dengan menyanyikan beberapa frasa dari jingle brand obat perih lambung tersebut. Uniknya dalam video tersebut, tidak ada penyebutan brand obat perih lambung tersebut.

Citra brand tersebut seolah-olah berubah drastis. Bila sebelumnya brand tersebut biasa hadir secara serius dengan material iklan dan video yang rapih. Kali ini justru hadir 180 derajat, terkesan tampil seadanya, sporadis, namun langsung kena sasaran ada audiens kalangan anak muda.

Realitanya, banyak brand yang berupaya untuk mendekati kalangan anak muda namun pendekatannya tidak tepat. Semisal mereka menggunakan beberapa referensi yang sangat tidak anak muda. Atau berupaya habis-habisan untuk menjadi anak muda, namun pendekatannya salah.

Bila benar dalam video Sobat Perih ini ada campur tangan brand tersebut maka kampanye mereka untuk mendekati anak muda terbilang berhasil. Karena secara tidak langsung mereka rela citra brand mereka diacak-acak untuk bisa mendapatkan tempat di kalangan anak muda.

Brand memberikan kebebasan yang luas kepada content creator untuk menerjemahkan visi brand tersebut. Dan content creator bisa menyalurkan aspirasi yang sesuai dengan visi mereka. Toh, hal ini menjadi win-win solution bagi kedua belah pihak.

Jadi, sudah beranikan brand Anda diacak-acak?

MARKETEERS X








To Top