Finance

Bisnis Asuransi Perlu Kenali Tiga Fase Situasi Bisnis Saat dan Pascapandemi

Photo Credits: 123rf

Pandemi COVID-19 tidak hanya membawa dampak negatif bagi sektor bisnis. Tak dipungkiri, terdapat sejumlah sektor yang justru growing di tengah kondisi ini. Bisnis asuransi salah satunya. Yang tak boleh dilupakan para pemain, kondisi ini tidak bertahan lama. Perusahaan perlu mempersiapkan tiga fase SPA (Surviving/Servicing, Preparing, Actualizing) untuk menjaga sustainabilitas bisnis mereka.

Survei yang dilakukan MarkPlus, Inc. kepada 105 responden (nasabah asuransi) di masa COVID-19 menunjukkan, 95% responden menganggap asuransi penting setelah COVID-19 hadir. Customer pun kian aware dan aktif mencari informasi mengenai asuransi.

88,6% responden mengaku mencari informasi seputar asuransi di masa pandemi ini. Dua hal yang paling sering dicari adalah apakah premi yang mereka bayarkan memberikan perlindungan dari COVID-19; dan apa saja manfaat yang diberikan dari premi asuransi yang mereka bayarkan saat ini.

Hal ini tentu menjadi peluang bisnis besar bagi para pemain asuransi. Namun, menurut Founder and Chairman MarkPlus, Inc. Hermawan Kartajaya, kondisi declining atau growing di masa krisis ini tidak akan bertahan lama. Perusahaan perlu mengamati dan mempersiapkan diri untuk melalui situasi bisnis di Indonesia yang secara umum akan terbagi ke dalam tiga fase (SPA).

Di fase pertama, perusahaan yang declining harus mengambil langkah untuk surviving di tengah ketidakpastian. Untuk itu, perusahaan harus siap dengan Marketing Continuity Brand (MCB) yang dilakukan dengan menerapkan berbagai efisiensi dan sumber revenue baru.

Sementara, bagi perusahaan yang growing, seperti sektor asuransi perlu melakukan langkah servicing.

“Bukan hanya meraup keuntungan sebanyak mungkin. Di masa seperti ini, perusahaan juga harus menunjukkan kepedulian kepada komunitas sekitar. Mereka harus mengambil langkah Marketing Sustainability Brand (MSB),” terang Hermawan dalam gelaran Industry Roundtable untuk sektor Insurance yang digelar oleh MarkPlus, Inc. secara virtual, Selasa (05/05/2020).

Ketika permintaan tinggi, perusahaan harus memberikan layanan sebaik mungkin kepada para customer. Perusahaan tidak boleh mengambil langkah egois lantaran produk atau layanan mereka tengah banyak dicari. Mereka harus meningkatkan reliability dalam menyediakan solusi atas anxiety para customer.

Perusahaan yang growing juga dapat memanfaatkan momentum untuk memperkenalkan produk dan fitur baru yang relevan dengan kondisi saat ini. Pemasar juga harus menyediakan akses yang lebih mudah dijangkau, dan nyaman bagi konsumen.

Di fase kedua (preparing), perusahaan perlu memperkirakan kesiapan mereka untuk beroperasi ketika pandemi COVID-19 berakhir. Untuk itu, perusahaan perlu memperhatikan balance sheet mereka.

“Marketing pun harus memperhatikan produk atau fitur yang relevan di masa depan. Operations harus memperhatikan penyampaiannya kepada konsumen, dan teknologi difokuskan untuk inovasi pengembangan produk,” terang Hermawan.

Di fase ketiga (actualizing), perusahaan perlu memperhatikan profitabilitas untuk mengejar ketertinggalan di masa awal pandemi muncul.

Brand akan semakin penting di masa post-normal. Sementara, kualitas harus kembali disesuaikan dengan tuntutan baru konsumen. “Teknologi pun semakin diarahkan untuk humanity di masa depan, tidak hanya untuk kepentingan perusahaan saja. Interaksi antarorang semakin terintegrasi antara offline dan online alias OMNI,” tutup Hermawan.

MARKETEERS X








To Top