Broom Mantap Tingkatkan Performa Bisnis dengan Eksekutif Baru

profile photo reporter Clara Ermaningtiastuti
ClaraErmaningtiastuti
13 September 2022
marketeers article
Susunan Manajemen Broom.id yang terdiri atas Andreas Sutanto (CFO), Pungky Wibawa (CBO), Pandu Adi Laras (CEO), dan Claussen Sindhuwinata (COO). | Foto: Broom
Broom, startup teknologi untuk ekosistem showroom mobil bekas memperkenalkan jajaran manajemen barunya. Perusahaan resmi menunjuk Claussen Sindhuwinata, mantan eksekutif di Gojek dan Uber sebagai Chief Operating Officer (COO) Broom. 
Dengan pengalamannya selama belasan tahun, Claussen diharap mampu memperkokoh positioning perusahaan sebagai “Teman Bisnis Showroom”. Kehadirannya juga menjadi bagian dari roadmap perusahaan dalam meningkatkan skala bisnis mereka di Indonesia.
Sebelum bergabung ke Broom pada Agustus 2022, Claussen merupakan Senior Vice President Operations Gojek selama empat tahun. Dengan pengalamannya serta para eksekutif lainnya, Broom berharap mampu menjawab permasalahan bagi pelaku bisnis showroom mobil bekas di Tanah Air.
Broom melihat bahwa saat ini, pelaku bisnis showroom mobil bekas mayoritas masih menggunakan cara tradisional. Padahal, berdasarkan data internal perusahaan, industri showroom mobil bekas di Indonesia terus tumbuh dan memiliki potensi mencapai US$ 52 miliar per tahun.
“Kami telah mempersiapkan roadmap perusahaan untuk industri showroom UKM mobil bekas. Mulai dari pengembangan teknologi, meningkatkan pengetahuan pelaku UKM mobil bekas, hingga meningkatkan kapasitas SDM internal, serta penunjukkan manajemen yang berpengalaman,” ujar Pandu Adi Laras, Co-Founder dan CEO Broom.id dalam keterangan yang diterima Marketeers.
Mengenai kesempatan pelaku showroom UKM, Claussen menyampaikan bahwa peran teknologi dan misi dampak sosial harus menjadi kesatuan. Diharapkan ke depannya, pebisnis di sektor ini dapat memaksimalkan setiap kesempatan menjadi peluang usaha.
“Mayoritas showroom UKM mobil bekas yang kami temui memiliki permasalahan sama, yaitu akses terhadap inventory penjualan baru serta turnover transaksi jual-beli yang rendah atau stok yang menumpuk. Di sisi lain, pengelolaan bisnis mereka masih berjalan secara tradisional,” jelas Claussen.
Permasalahan tersebut diperkirakan membuat para pelaku UKM mobil bekas ini tidak memiliki fleksibilitas cash flow serta menyulitkan mereka untuk berkembang. Sebab itu, dengan teknologi yang dimiliki, Broom ingin menghadirkan solusi yang tepat bagi mereka.
Broom memahami bahwa sama seperti UKM dan warung tradisional di Indonesia, showroom mobil bekas ini memegang peran penting dalam perputaran ekonomi. Terlebih, di tengah situasi ekonomi saat ini.
Karena itu, Broom terus menjalin kerja sama dengan lebih dari 3.000 showroom di Jabodetabek. Perusahaan memberikan berbagai layanan seperti penjualan sementara stok mobil ke Broom untuk dapat dibeli kembali oleh showroom (buyback), marketplace eksklusif showroom, dan program komunitas.
Editor: Muhammad Perkasa Al Hafiz

Related