Cara Kreatif OJK Dongkrak Perbankan Syariah

marketeers article

Kegiatan Expo iB (Islamic Banking) Vaganza kembali digelar untuk kesembilan kalinya. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai upaya untuk semakin memperkenalkan dan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai keunggulan produk dan layanan perbankan dan keuangan syariah. “Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama OJK dengan industri perbankan dan keuangan syariah, dan digelar selama empat hari, pada 20-23 Agustus 2015,” kata Kepala OJK Regional IV Wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, Santoso Wibowo di Semarang, Kamis (20/8/2015).

Menurutnya, sebagai industri yang relatif baru tumbuh, perbankan syariah memandang perlu mengadakan ekspo tersebut. “Industri perbankan dan keuangan syariah nasional perlu terus melakukan sosialisasi dan edukasi publik,” katanya

Lebih jauh lagi, kegiatan semacam ini perlu dilakukan sebagai upaya program literasi dan edukasi keuangan syariah yang dipandang perlu dibudayakan mulai dari lingkungan sekolah. Kegiatan expo tersebut juga akan dimeriahkan dengan berbagai acara, di antaranya talk show edukasi dan sosialisasi produk dan layanan keuangan syariah dengan nara sumber dari OJK, pelaku industri jasa keuangan syariah dan akademisi. 

Berdasarkan data OJK pada Mei 2015, industri perbankan syariah terdiri atas 12 bank umum syariah (BUS), 22 unit usaha syariah (UUS) yang dimiliki oleh bank umum konvensional dan 162 BPR syariah dengan total asset sebesar 272,389 triliun dengan pangsa pasar 4,67%. Sedangkan, khusus untuk wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, total aset, pembiayaan, dan dana pihak ketiga (BUS dan UUS) masing-masing sebesar 19,94 triliun, 15,06 trilliun dan 14,65 triliun. Khusus Kota Semarang, perbankan syariah telah menyalurkan dana pembiayaan perbankan syariah sebesar 4,43 triliun dan menghimpun dana pihak ketiga sebesar 4,56 triliun.

Santoso menambahkan, tujuan pengembangan industri perbankan syariah tersebut menciptakan strategi yang tepat. Khususnya, dalam mengkomunikasikan produk dan layanan perbankan syariah ke masyarakat tanpa menghilangkan ciri khasnya, sumber daya manusia yang memadai serta fasilitas produk dan jasa yang dapat dinikmati kapan pun oleh nasabah, serta memiliki jaringan kantor yang luas.

Hal tersebut diamini oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Dirinya berharap perbankan syariah cepat menangkap peluang pasar yang ada di sekitarnya, termasuk di wilayah Jawa Tengah. Hal ini menjadi penting karena memiliki dampak terhadap pembangunan ekonomi di Jawa Tengah. “Analisis ekonomi yang harus dijadikan sebagai referensi. Dari krisis ekonomi 1998 industri mikro yang ternyata bertahan. Ini yang harus digarap,” ujarnya.

Ganjar juga berpesan pada pelaku industri perbankan syariah agar segera merangkul sektor industri mikro. “Banyak potensi baik jangka pendek maupun jangka panjang yang dapat digarap dan dioptimalkan oleh perbankan syariah. Misalnya, bicara soal sapi saja, sekarang ini banyak peternak tidak punya modal. Kalau ada modal, mereka bisa kulakan sapi sekarang dan sebentar lagi kan Lebaran haji, orang dimodali pasti akan balik,” pungkas Gubernur Jawa Tengah tersebut.

    Related

    award
    SPSAwArDS