Opinion

CMO=CEO?

Digital marketing menjadi strategi para pemasar di Indonesia saat ini. Ketika mendapatkan pertanyaan apakah perusahaan atau merek Anda telah masuk ke dunia digital, banyak pemasar yang mengatakan iya. Alasannya karena digital marketing menjadi sebuah keniscayaan dan keharusan.

Sayangnya, banyak dari pemasar yang menganggap pemasaran digital sebatas promosi di media sosial. Ketika sebuah perusahaan atau merek memiliki akun di Instagram, Facebook, Twitter, YouTube, Linkedln, atau lainnya, pemasar berpikir bahwa mereka telah menjalankan digital marketing. Anggapan itu memang tidak salah. Namun, satu hal yang harus dicatat, media sosial hanya bagian dari digital marketing.

Digital marketing adalah tentang experience. Melalui dunia digital, tugas pemasar bukan hanya menjual, tapi juga menghadirkan customer experience dan engage dengan konsumen,” kata Jodie Sangster, CMO Liaison Leader, IBM Watson.

Menghadirkan experience bisa dilakukan dalam berbagai kanal. Mulai dari memberikan tempat bagi konsumen untuk berinteraksi, menghadirkan layanan e-mail, situs, aplikasi, media sosial, dan lainnya. Intinya, perusahaan atau merek harus bisa hadir, bersama konsumen kapan saja, dan menghadirkan experience bagi mereka. “Itulah makna dari digital marketing. Bagaimana kita bisa hadir bersama konsumen setiap saat,” kata Jodie.

Agar tidak mengganggu, pemasar harus mengerti bagaimana perilaku, karakter, hingga anxieties dan desires dari konsumen. Meski terdengar rumit, hal itu sangat mungkin dilakukan dalam dunia digital. Sebab, segala tingkah dan perilaku konsumen bisa tercatat sehingga bisa dianalisis oleh perusahaan.

Pengalaman menjadi hal krusial ketika brand ingin melakukan digital marketing. “Itulah mengapa, tugas Chief Marketing Officer (CMO) telah berubah menjadi CEO. Yaitu chief experience officer,” kata Vina D. Kasim, Country Marketing Manager PT IBM Indonesia.

Kesimpulan itu didapat setelah IBM Institute for Business Value merilis riset bertajuk The Modern Marketing Mandate. Berkolaborasi dengan Oxford Economics, IBM mewawancarai 2.091 CMO di 20 industri dari 112 negara. Di tengah kecanggihan teknologi, terdapat 84% CMO yang khawatir dengan bisnis model mereka saat ini. Karenanya, CMO harus menaikkan value, melakukan terobosan yang tidak biasa, menghadirkan pengalaman yang bersifat personalized bagi konsumen, serta mengubah kultur perusahaan untuk berpikir dan bertindak secara customer centric.

Meski harus berada di sisi konsumen setiap saat, perusahaan juga harus memerhatikan konten yang ingin dipromosikan kepada konsumen. Jangan sampai, konten yang ada tidak sesuai dengan konteks. Dus, ketika konsumen tidak melakukan respons, bahkan komplain dan merasa terganggu, perusahaan harus memikirkan ulang strateginya di dalam dunia digital.

IBM pun memberikan beberapa langkah ketika perusahaan ingin menjajal digital marketing. Pertama, menentukan apa yang menjadi objektif dari kampanye, serta apa hasil yang ingin dicapai. Kedua, menentukan channel mana yang akan digunakan untuk menjangkau konsumen. Artinya, perusahaan harus melakukan segmentasi agar kanal yang digunakan cocok dengan karakter konsumen.

Ketiga, hadir dalam waktu yang tepat. Jangan sampai, konten yang dihadirkan justru bersifat mengganggu. Makanya, konten harus akurat, cepat dan substansial.

Harus diakui bahwa melakukan digital marketing adalah hal yang susah-susah gampang. Maklum, pemasar tidak pernah tahu kanal mana, konten seperti apa, serta kapan momen terbaik, sehingga kampanye itu bisa berujung pada transaksi. “Namun, menganalisis digital lebih mudah dibandingkan pemasaran tradisional,” kata Jodie.

Hal ini menuntut agar pemasar memiliki skill yang tepat. Selain itu, perusahaan juga harus mau mengulik dan menganalisis data yang tersedia. Perusahaan dan pemasar harus memanfaatkan channel secara maksimal. “Customer experience memang penting. Namun, pemasar juga harus memerhatikan omni-channel dan strategi dalam menyampaikan pesan,” kata Jodie. Nah, apakah Anda siap menjadi CEO?

MARKETEERS X

Most Popular

ALIVE Indonesia







To Top