Government & Public Services

Darurat Ekonomi Selesai Bila Pandemi Ditangani

Sumber: 123rf

Sebuah kelompok internasional beranggotakan 165 orang, termasuk 92 orang mantan presiden dan perdana menteri bersama dengan para pemimpin dan pakar ekonomi dan kesehatan di negara maju dan berkembang telah sepakat untuk mendesak pembentukan gugus tugas eksekutif G20 dan penyelenggaraan konferensi khusus untuk mengesahkan dan mengoordinasikan jutaan miliar Dollar AS untuk melawan penyebaran virus corona.

Dalam sebuah surat terbuka yang ditujukan kepada para pemimpin G20, kelompok yang ingin mempercepat pengadaan vaksin, obat dan penyembuhan serta memulihkan ekonomi dunia, mendesak adanya kolaborasi dan komitmen global untuk memberikan dana jauh melebihi dari kapasitas berbagai lembaga internasional kita sekarang.

Surat tersebut menyatakan, situasi darurat ekonomi tidak akan selesai sampai permasalahan kesehatan ditangani. Permasalahan kesehatan tidak dapat selesai hanya dengan memberantas wabah di satu negara saja, tetapi juga harus memastikan bahwa seluruh negara juga pulih dari COVID-19.

Surat tersebut memohon adanya kesepakatan untuk beberapa hal, seperti dana sebesar US$ 8 miliar untuk mempercepat upaya pengadaan vaksin, obat dan penyembuhan; US$ 35 miliar untuk mendukung sistem kesehatan, mulai dari ventilator hingga peralatan tes, serta alat pelindung diri bagi petugas kesehatan; US$ 150 miliar bagi negara berkembang untuk menghadapi krisis kesehatan dan perekonomian serta mencegah gelombang kedua dari penyebaran virus corona agar tidak kembali ke negara-negara yang terkena dampak gelombang pertama.

Hal ini berarti menghapus pembayaran bunga utang dari negara-negara miskin, termasuk pembayaran sebesar US$ 44 miliar dari Afrika. Selain itu, hal lain yang diminta adalah tambahan anggaran sebesar US$ 500-600 miliar dari IMF dalam bentuk special drawing rights (SDR).

Surat tersebut juga mendesak adanya koordinasi terkait stimulus fiskal untuk mencegah resesi berkembang menjadi depresi ekonomi. Sambil menyambut pengumuman resmi dari G20 terkait krisis COVID-19, kelompok berisi 165 orang tersebut juga mendesak G20 untuk mempercepat pembentukan rencana tindakan.

Kelompok tersebut menyatakan, semua sistem kesehatan dunia, bahkan yang paling maju dan memiliki anggaran yang baik pun, sedang goyah di bawah tekanan virus corona. Jika kita tidak melakukan apa-apa sementara wabah ini terus menyebar di kota-kota miskin di Afrika, Asia, dan Amerika Latin yang memiliki peralatan tes yang minim, tidak memiliki ventilator dan pasokan kesehatan yang memadai bahkan social distancing dan mencuci tangan pun sulit, maka COVID-19 akan terus ada – bahkan kembali muncul menyerang belahan dunia lainnya sehingga akan memperpanjang masa krisis ini.

Para pemimpin dunia harus segera sepakat menyediakan US$ 8 miliar sebagaimana ditetapkan oleh Global Preparedness Monitoring Board, untuk mengisi kesenjangan yang ada dalam merespons COVID-19. Upaya ini termasuk US$ 1 miliar untuk WHO, US$ 3 miliar untuk pengadaan vaksin, dan US$ 2,25 miliar untuk terapi pengobatan.

Alih-alih situasi di mana setiap negara termasuk negara bagian dan provinsi yang ada di dalamnya, memperebutkan sumber daya dan kapasitas yang ada, sebaiknya kita juga meningkatkan kapasitas sekarang dengan mendukung WHO dalam mengoordinasikan produksi dan pengadaan global terkait peralatan kesehatan, seperti alat tes, alat pelindung diri dan teknologi ITU untuk memenuhi permintaan global.

Diperlukan anggaran sebesar US$ 30 miliar sebagaimana ditekankan oleh WHO untuk mendukung negara dengan sistem kesehatan yang lemah dan populasi kelompok rentan, termasuk penyediaan alat-alat kesehatan yang vital, dukungan signifikan kepada petugas kesehatan nasional (mengingat bahwa 70% dari petugas kesehatan di banyak negara adalah perempuan dengan upah yang minim), serta memperkuat ketahanan dan kesiapan nasional.

Menurut WHO, hampir 30% dari negara di dunia tidak memiliki kesiapan dan rencana tanggap nasional untuk COVID-19 dan hanya separuh yang memiliki program pencegahan dan pengendalian wabah nasional. Sistem kesehatan di negara dengan penghasilan rendah juga sulit bertahan. Bahkan studi dengan tingkat estimasi yang paling optimistis dari Imperial College London menyatakan bahwa akan terjadi kematian sebanyak 900.000 kasus di Asia dan 300.000 kasus di Afrika.

MARKETEERS X








To Top