Opinion

Di Tengah Ketidakpastian, Temukan Momentum

Ilustrasi: 123RF

Dunia saat ini menyuguhkan situasi serba tak pasti. Ketidakpastian ini membuat masyarakat was-was. Tak terkecuali para pelaku bisnis. Ancaman virus mematikan Corona dari Wuhan, Cina, misalnya. Perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina yang masih berlangsung. Belum lagi ketakutan akan meletusnya Perang Dunia Ketiga dan perubahan iklim. Ditambah dengan banjirnya informasi dengan segala fakta dan hoaks yang membuat orang kesulitan dalam mengambil keputusan.

Situasi sekarang diwarnai dengan fenomena VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity). Istilah ini pertama kali digunakan di kalangan militer Amerika Serikat pada tahun 1990an untuk menggambarkan kondisi yang rapuh, tidak pasti, kompleks, serta ambigu. Istilah ini kemudian jamak dipakai untuk menggambarkan kondisi lingkungan bisnis hari ini.

Bagaimana menghadapi situasi tersebut? Jack Ma, pendiri Alibaba Group, menawarkan strategi DAMO. DAMO merupakan kependekan dari Discovery, Adventure, Momentum, dan Outlook. Intinya, menghadapi ketidakpastian, orang dituntut untuk menemukan peluang-peluang baru, memanfaatkan momentum, serta memiliki visi masa depan.

Dari empat resep yang ditawarkan Jack Ma ini, momentum menjadi yang paling penting. Orang ditantang untuk menemukan momentum dalam situasi apa pun. Semangat ini sejalan dengan filosofi Cina tentang Weiji. Weiji memiliki arti krisis. Weiji terbentuk dari dua kata, yakni Wei yang berarti bahaya dan Ji yang berarti peluang. Menemukan peluang di tengah krisis inilah momentum tersebut.

Marketing Saja Tak Cukup

Hal ini juga ditandaskan oleh pakar pemasaran Hermawan Kartajaya dalam bukunya berjudul Momentum, 18 Kunci Utama Penggerak Bisnis (Gramedia, 2019). Ia mengatakan, momentum itu sangat penting. Untuk menemukan momentum, kata Hermawan, strategi marketing saja tidaklah cukup. Caranya adalah dengan memiliki jiwa entrepreneurial. Dengan semangat ini, orang mampu menemukan peluang dan berani mengambil risiko.

Untuk memahami momentum, kita bisa belajar dari seorang fotografer. Fotografer merupakan profesi yang melekat dengan momentum. Ia tahu persis kapan waktu yang tepat untuk memotret – termasuk tempat dan kondisi yang tepat. Satu detik momen terlewat, ia akan gagal mendapatkan foto yang bagus. Tak hanya itu, untuk mendapatkan foto yang bagus, ia harus mengatur diafragma, pencahayaan, fokus, dan sebagainya.

Kata-kata kunci pengertian momentum dari kinerja fotografer tersebut selain kerja keras, juga waktu, situasi, dan tempat yang pas. Kata “pas” dan “tepat” inilah elemen penting momentum. Hermawan tidak sepakat dengan pandangan siapa yang paling cepat akan menang. Yang akan menang adalah yang paling tepat. Tentunya tidak mengabaikan kecepatan.

Sebagai orang yang pernah menjadi guru matematika dan fisika di SMA di Surabaya, Hermawan mengadopsi hukum momentum untuk pemasaran. Rumus momentum adalah P=MV. P melambangkan momentum yang merupakan hasil perkalian antara M (massa) dan V (velocity/kecepatan). Semakin besar momentumnya, semakin besar pula dampak yang dihasilkan.

Di marketing, massa dianalogikan dengan Omni Brand. Ini mengacu pada semua inisiatif yang dilakukan oleh pengelola merek. Dari upaya membangun positioning, diferensiasi, brand, hingga segmentasi, targeting, marketing mix, selling, service, hingga proses. Sementara, omni mengacu pada integrasi antara hal-hal paradoks, seperti online-offline, kuantitas-kualitas, content-context, dan sebagainya.

Velocity mengacu pada kecepatan. Terutama kecepatan memanfaatkan momentum. Kunci keberhasilannya bukan pada kecepatan itu sendiri, tetapi pada ketepatan, entah waktu, kondisi, maupun tempat.

Menunggangi atau Menciptakan Momentum

Dalam menemukan momentum, ada dua pendekatan. Pertama, riding the momentum. Orang memanfaatkan dengan baik momentum yang sudah ada. Ibarat peselancar yang menunggangi ombak.

Ada banyak contoh riding the momentum ini. Misalnya, pesta olahraga, seperti Piala Dunia, Asian Games, maupun Olimpiade. Momentum ini bisa dimanfaatkan oleh merek untuk kampanye pemasaran, membangun brand awareness, memperkenalkan produk dan layanan baru, dan sebagainya.

Kedua, creating the momentum. Di sini, orang tidak sekadar menunggu momentum, tetapi justru menciptakan momentum itu sendiri. Alibaba contohnya. Ia sukses menggelar Alibaba Singles Day. Sejak pertama digelar, program ini selalu memecahkan rekor penjualan. Ini juga menginspirasi merek-merek di dunia menggelar aktivasi serupa.

Di sini, kreativitas pengelola merek ditantang. Tidak harus memanfaatkan atau menciptakan momentum skala besar. Momentum skala kecil atau bahkan mikro seperti di tingkat individual pun tidak masalah. Bila dikelola dengan baik, momentum itu bisa memberikan hasil optimal bagi perusahaan.

Akhirnya, dalam situasi apa pun, pebisnis ditantang untuk jeli dalam melihat peluang. Peluang ada dalam setiap momentum. Termasuk dalam situasi krisis yang seolah-olah tanpa harapan. Momentum akan selalu ada dan tidak perlu ditunggu.

Jadi, momentum apa saja yang bisa Anda tangkap dalam situasi seperti sekarang ini?

MARKETEERS X








To Top