Automotive

Empat Ilmu Marketing dari Film Ford V Ferrari

Ajang Academy Award 2020 usai sudah. Ajang paling bergengsi dalam industri perfilman internasional ini mengumumkan Parasite sebagai Film Terbaik. Film garapan sutradara Korea Selatan Bong Joon-ho ini menorehkan sejarah baru sebagai film pertama berbahasa asing yang memenangkan kategori Film Terbaik.

Namun dalam nominasi Best Picture, ada satu film yang sarat dengan ilmu marketing, film tersebut adalah Ford v Ferrari. Film karya James Mangold ini mengangkat perseteruan antara pabrikan mobil Amerika Serikat, Ford, dengan Ferrari asal Italia pada ajang balapan 24 jam Le Mans.

Premis film ini sederhana. Ford ingin meningkatkan penjualan dengan memproduksi mobil yang benar-benar sesuai dengan selera anak muda Amerika Serikat pada tahun 1960an. Kala itu, mobil keluaran Ford tergolong kuno dan lambat, menyebabkan penjualan terus merosot.

Merasa bertanggung jawab atas penurunan penjualan, tim marketing Ford menjelaskan bahwa saat ini anak muda suka dengan mobil yang cepat karena citra cepat sangat lekat dengan citra pemenang. Pada tahun itu, Ferrari merupakan produsen mobil tercepat yang pernah ada. Untuk bisa meyakinkan konsumen bahwa Ford bisa memproduksi mobil yang modern dan cepat, maka tim manajemen Ford harus menantang Ferrari dalam ajang balap mobil Le Mans.

Dalam film yang dibintangi oleh Matt Damon dan Christian Bale ini sarat dengan beberapa ilmu pemasaran. Pelajaran pertama adalah belajar dari kompetitor. Awalnya, Ford berniat mengakuisisi Ferarri. Tapi, Enzo Ferrari pendiri Ferrari merasa tawaran yang diajukan Ford sebagai penghinaan. Gagal mengakuisisi, Ford pun mempelajari bagaimana mobil Ferrari bisa terus menjuarai kejuaraan.

Kedua, terus melakukan penyempurnaan produk. Caroll Shelby bersama Ken Miles terus melakukan penyempurnaan produk hingga detik-detik akhir perlombaan. Dalam satu sesi uji coba, Ken Miles hampir meninggal karena kegagalan fungsi rem. Hal ini kemudian diperbaiki oleh teknisi dan berhasil membuat sistem rem yang lebih baik dan lahirlah Ford GT40.

Ketiga, percayakan produk pada ahlinya. Caroll Shelby dan Ken Miles adalah sosok pembalap yang paham betul bagaimana mobil balap seharusnya dibuat. Keduanya bahu-membahu untuk membangun mobil paling cepat yang pernah ada. Namun, beberapa petinggi Ford menilai sosok Ken Miles tidak merepresentasikan brand Ford karena karakternya yang blak-blakan. Dengan terpaksa Caroll Shelby meloloskan permintaan ini. Hasilnya, mobil Ford tidak ada satu pun yang berhasil menyelesaikan perlombaan.

Dalam perlombaan selanjutnya, Ford akhirnya rela Ken Miles menjadi pembalap Ford. Determinasinya pada produk yang ia bangun berhasil membawanya mencatatkan catatan waktu terbaik dalam balapan Le Mans dan membawa tiga mobil Ford melewati garis finish secara bersamaan.

Terakhir, fokus pada produk. Baik Caroll Shellby dan Ken Miles terus mendapatkan intervensi dari tim marketing Ford. Mulai dari desain produk, performa mesin, hingga citra di mata masyarakat. Tapi, keduanya berupaya untuk terus fokus pada tujuan mereka, mobil balap tercepat yang pernah ada saat itu. Bahkan, Shellby dan Miles juga sering bertengkar dan berargumen terkait dengan bagaimana mobil tersebut harus diciptakan.

Meskipun tidak memenangi Best Picture pada Academy Awards tahun ini, Ford V Ferrari berhasil memenangkan dua kategori, yakni Best Film Editing dan Best Sound Editing.

MARKETEERS X








To Top