Opinion

Faktor Krusial Membangun Digital Asset, Selain Masalah SDM

Selain sumber daya manusia, faktor krusial lainnya dalam membangun digital asset adalah infrastruktur dan sistem di dalamnya. McKinsey menyebutkan setidaknya ada empat teknologi yang menjadi dasar dalam penerapan transformasi digital di Indonesia. Keempat teknologi itu adalah mobile internet, cloud technology, Internet of Things (IoT), dan big data analytics.

Empat teknologi dasar ini menjadi panduan awal bagi beragam perusahaan dalam melakukan transformasi digital. Beberapa sudah menerapkan dan memanfaatkan teknologi ini.

Bagi Bluebird, IoT berperan mengidentifikasi pesanan dari penumpang, proses bidding bagi pengemudi, ketersediaan jalur rute yang sesuai, metode pembayaran, dan proses reporting.

“Selama puluhan tahun, kami memiliki data penumpang mulai yang pesan dari call center hingga aplikasi. Untuk memberikan layanan terbaik, data process ini kami tambahkan dengan CRM System,” terang Amelia Nasution, Marketing Director PT Bluebird Tbk..

CRM System ini terbilang baru diterapkan oleh Bluebird. Metode ini baru muncul ketika perusahaan melakukan transformasi digital pada tahun 2016 lalu. CRM diterapkan oleh Bluebird karena mereka ingin mengenal lebih personal siapa saja penumpang mereka. Ketika data penumpang telah mereka olah, selanjutnya divisi marketing bisa memberikan program yang sesuai dengan kebutuhan penumpang. Salah satunya Advance Booking yang tersedia pada aplikasi mereka.

“Dengan CRM, kami ingin meningkatkan level engagement dengan penumpang. Berapa banyak dari mereka yang membuka email dari kami atau merespons program yang kami tawarkan. Intinya adalah meningkatkan partisipasi penumpang,” jelas Amelia.

Indra Utoyo, Direktur Digital, Teknologi Informasi, dan Operasi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mengatakan, transformasi digital memang menuntut infrastruktur yang baru meski tidak sepenuhnya meninggalkan infrastruktur yang lama. “Sekarang, kita memasuki era open banking yang mana bank terkoneksi dengan mitra-mitra baru yang lebih luas dan mendatangkan peluang-peluang baru. Mau tidak mau, infrastruktur bank harus mengarah ke sana,” kata Indra.

Indra menjelaskan, saat ini BRI menata kembali infrastruktur dari yang sebelumnya monolitik menuju sistem terbuka dan berjenjang. Hal ini meliputi tahapan depan, tengah, hingga akhir atau back end. “Infrastruktur big data menjadi infrastruktur kunci. Tujuannya, membuat layanan makin cepat, efektif, efisien, sekaligus aman,” katanya.

Membangun infrastruktur dan sistem membutuhkan biaya dan investasi yang besar. Karenanya, banyak pemain besar yang berkolaborasi dengan pemain lain. Sebut saja, BRI bersama Google Cloud, Bluebird bersama Gojek, Pertamina dengan Telkom, dan L’Oreal menggandeng Shopee.

Riset Tofugear Asia Digital Transformation Report 2019 menunjukkan 77% peritel di Asia mengejar transformasi digital dengan cara bermitra bersama perusahaan teknologi. Sebanyak 58% responden memilih cara ini untuk mendapatkan manfaat dan pemahaman langsung dari para ahlinya. Selain itu, kemitraan ini bertujuan mempercepat transformasi digital. Nah, salah satu tantangannya adalah menemukan mitra yang tepat dan kesepakatan dalam pengelolaan data, khususnya untuk data-data yang dinilai sensitif.

Bluebird bermitra dengan Gojek untuk hal penambahan channel pemesanan melalui aplikasi ride hailing itu. Selain itu, Bluebird juga bermitra dengan Google Cloud dalam hal penggunaan big query dan machine learning. Dua fitur ini digunakan untuk meninjau supply dan demand.

Selanjutnya, seluruh data-data itu akan ditarik, dianalisis, dan dilihat polanya dalam beberapa waktu ke depan. Hal ini akan berdampak pada peredaran armada Bluebird di wilayah tertentu agar efisien.

BRI juga bermitra dengan Google Cloud khususnya pengunaan Cloud Apigee API Management Platform untuk menjadi pusat komunikasi Bank BRI hingga menangani semua transaksi antara bank dan pihak ketiga. Hasilnya, Bank BRI bisa menentukan siapa saja nasabah mereka yang bisa direkrut menjadi agen BRIlink.

Yang pasti, besar kecilnya investasi digital tergantung pada kebutuhan dan tujuan masing-masing perusahaan. “Kami tahu betul berapa investasi yang kami keluarkan. Tapi,  ini akan mengubah proses bisnis kami menjadi lebih baik,” ujar Amelia.

Nah, setelah penjelasan dari beberapa best practices yang ada di Indonesia, satu hal yang harus dipahami perusahaan dan pemilik merek dari transformasi digital adalah kesadaran dan tanggung jawab bersama. Pahami bahwa transformasi digital mencakup seluruh proses bisnis perusahaan secara keseluruhan. Jadi, hilangkan pola pikir bahwa transformasi digital adalah proyek anak IT saja.

MARKETEERS X








To Top