Harapan Baru Bagi Penderita Parkinson Ada di Surabaya

profile photo reporter Novia Sari
NoviaSari
12 April 2015
marketeers article
Bagi Anda pemerhati dunia kesehatan, pasti tidak asing dengan nama Dr. Ahmad Fahmi. Pria 34 tahun ini dikenal sebagai salah satu spesialis bedah saraf di Indonesia yang menguasai teknik pembedahan Parkinson dan Movement Disorder dengan teknik thalamotomy dan stereotaktik, yang biasa disebut dengan Stereotactic Brain Lession. Metode pembedahan yang pertama kali di Asia Tenggara ini memiliki kelebihan meminimalkan luka bedah dan terapi tanpa mengkonsumsi obat sama sekali.
“Kami hanya melakukan pembedahan satu sentimeter di kepala bagian otak bernama thalamus dan dilakukan dengan kondisi pasien sadar penuh. Pembedahan ini juga memakan biaya yang jauh lebih murah dibandingkan metode penanganan biasanya seperti Deep Brain Stimulation (DBS),” kata Dr. Achmad Fahmi saat ditemui pada acara Penganugerahan Rekor MURI Untuk National Hospital di Surabaya, Sabtu (11/04/2015).
Menurut Dr. Ahmad Fahmi, saat ini belum ada obat minum atau suntik yang bisa menyembuhkan parkinson secara menyeluruh. Terapi dengan menggunakan obat-obatan (drug therapy), seperti terapi obat untuk parkinsonian tremor menggunakan levodopa, dopamine agoinst dan sediaan anticholinergic, hanya digunakan pada jenis tremor tertentu. Ini juga digunakan  sebatas mengurangi dan mengendalikan gejala saja serta tidak untuk menyembuhkan.
Terdapat dua pilihan yang dapat dilakukan untuk penanganan movement disorder, yakni Deep Brain Stimulation (DBS) untuk kelambatan dalam bergerak dan Stereotactic Brain Lession, yang juga paling efektif untuk penderita Tremor. Perbedaannya teknik metode DBS, pasien diharuskan untuk ditanam alat untuk menstimulasi otak. Sementara, pada Stereotactic Brain Lession tidak. Metode DBS memakan biaya yang cukup besar, yakni Rp 350 juta. Sedangkan Stereotactic Brain Lession memerlukan biaya Rp 90 juta.
“Teknik pembedahan saraf otak dengan penggunaan teknik DBS sebenarnya telah dimulai di Amerika Serikat sejak tahun 2000. Kesulitan yang dihadapi pada awal kembali ke Indonesia adalah tidak tersedianya alat canggih yang dapat mendukung penanganan parkinson. Patut disyukuri saat ini National Hospital sudah dapat memfasilitasi alat-alat radiologi berteknologi terbaru seperti Magnetic Resonance Imaging (MRI) 3 Tesla Wide Bore yang merupakan pertama di Indonesia,” jelas Fahmi.
Selama satu tahun terakhir Dr. Fahmi bersama National Hospital telah menangani sebanyak 100 pasien dengan penderita parkinson, tremor ataupun movement disorder lainnya dari Sabang hingga Merauke. “Dengan teknologi yang ada ini diharapkan dapat membantu penderita parkinson yang tidak dapat melaukan aktivitas, seperti makan, jalan, dan beraktivitas seperti sedia kala. Seringkali pasien banyak yang putus harapan dan bahkan ingin bunuh diri karena penyakitnya  sudah hampir satu tahun,” ujar Fahmi.
Sementara itu, pemerintah secara serius harus menanggulangi penyakit ini mengingat saat ini jumlah penderita parkinson di Indonesia disinyalir cukup banyak. Angkanya diperkirakan mencapai 75.000 kasus baru setiap tahunnya dan sebagian besar belum dapat ditangani dengan baik. Saat ini, pola pikir masyarakat Indonesia cenderung berkiblat pada dokter-dokter di luar negeri.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf, menyatakan dalam satu tahun, masyarakat Indonesia menghabiskan dana total sebanyak Rp 5 triliun untuk biaya berobat ke luar negeri yang mana Jawa Timur sendiri menyumbang 20% dari total dana tersebut (Rp 1 triliun). “Dengan kualitas dokter yang dimiliki seperti Dr. Fahmi ini, kami dapat meyakinkan dunia dan rakyat Indonesia sendiri bahwa negeri ini memiliki sumber daya yang bagus,” kata lelaki yang akrab disapa dengan Gus Ipul itu.
Gus Ipul menambahkan, dengan biaya operasi Stereotactic Brain Lession yang mencapai Rp 90 juta untuk kelas tiga, diharapkan ke depannya pemerintah dapat berupaya untuk membantu masyarakat melalui program BPJS.

Related