Incar Pasar Amerika, UNIQLO Bidik Keuntungan Naik 50%

profile photo reporter Tri Kurnia Yunianto
TriKurnia Yunianto
20 Juli 2022
marketeers article
Toko fesyen UNIQLO, sumber gambar: 123rf
Perusahaan fesyen asal Jepang, UNIQLO membidik adanya peningkatan keuntungan sebesar 50% pada tahun 2022 dibandingkan tahun sebelumnya (year-on-yer/yoy). Target ini bakal dikejar dengan memfokuskan penjualan di benua Amerika.
Takeshi Okazaki, Chief Financial Officer (CFO) UNIQLO mengungkapkan, fokus penjualan akan dilakukan di Amerika lantaran salah satu pasar terbesarnya yakni Cina tengah terjadi lonjakan sebaran pandemi COVID-19. Hal itu membuat Negeri Panda kembali menerapkan kebijakan karantina wilayah (lockdown) ketat yang memengaruhi penjualan.
“Kami memiliki laba bersih lebih dari dua kali lipat menjadi ¥ 90,9 miliar atau setara € 650 juta. Kami terbantu dibandingkan dengan Yen yang secara historis lemah. Namun, pada nilai tukar saat ini dan konstan, hasil operasional mencapai rekor. Laba operasional berakhir pada ¥ 81,8 miliar, atau 36,5% lebih tinggi dari tahun lalu,” ujar Takeshi dilansir dari retaildetail.eu, Rabu (20/7/2022).
Menurutnya, sejauh ini perusahaan masih mengkhawatirkan pasar Cina yang masih melakukan lockdown. Sebab, negara ini menyumbang hampir seperempat dari penjualan UNIQLO. Alhasil, penjualan dan laba turun secara signifikan pada kuartal II tahun 2022.
“Untungnya, penjualan di Cina meningkat pada Juni dan Juli di area di mana pembatasan telah dicabut, melebihi tahun lalu,” ujarnya.
Setelah melewati kuartal II, kata Takeshi, UNIQLO menaikkan targetnya untuk tahun fiskal penuh, yang berakhir pada Agustus. Perusahaan sekarang menargetkan laba bersih ¥ 250 miliar atau setara € 1,8 miliar, dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya 190 miliar Yen.
Jumlah tersebut akan meningkat sebesar 47,2% lebih tinggi dari tahun fiskal lalu dan akan memecahkan rekor yang ditetapkan pada 2019. Perusahaan asal Jepang ini juga memperkirakan penjualan tahunan sebesar ¥ 2,25 triliun atau setara € 16,2 miliar yang akan mewakili peningkatan 5,5%.
“Sebagian karena ketidakpastian di Cina dan Rusia, kami juga fokus pada pasar Amerika Utara. Sejauh ini, grup fesyen hanya memiliki 57 toko di sana, tetapi jumlah ini diperkirakan akan meningkat menjadi 200 dalam waktu lima tahun,” tutur Takeshi.
Editor: Muhammad Perkasa Al Hafiz

Related