Investasi Apa yang Tepat di Tengah Inflasi dan Isu Resesi Global?

profile photo reporter Muhammad Perkasa Al Hafiz
MuhammadPerkasa Al Hafiz
19 Agustus 2022
marketeers article
Ilustrasi perencanaan investasi (Sumber: 123RF)
Prospek ekonomi global diprediksi tidak dalam kondisi baik-baik saja. Hal ini tergambar dari laporan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) Kristalina Georgieva yang menyampaikan prospek ekonomi global pada tahun 2023 dan menyebutnya sebagai “gelap signifikan”. Melihat kondisi ekonomi yang tidak menjanjikan, penting bagi kita untuk merencanakan strategi investasi yang tepat. Lantas, investasi apa yang tepat di tengah isu resesi?
Jika dilihat, banyak faktor yang menggambarkan kondisi di atas. Ketidakstabilan geopolitik menjadi penyebab utama meningkatnya inflasi global, kemiskinan, dan bencana kelaparan. Di lain pihak, Presiden RI Joko Widodo sepakat bahwa keadaan dunia sedang sangat sulit dan cenderung “gelap”. Meski Indonesia diprediksi tidak akan mengalaminya, Presiden mewanti-wanti Indonesia untuk waspada dengan ancaman resesi global.
Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, tingkat inflasi secara tahunan (YoY) di Indonesia berada di angka 4,94% atau yang tertinggi sejak tahun 2015. Sebagai perbandingan di tingkat global, pada Juni 2022 Amerika Serikat mengalami tingkat inflasi tahunan tertinggi dalam 40 tahun terakhir. Masyarakat di sana menghadapi kenaikan 60% untuk harga bensin, 33,1% untuk harga telur, dan 5,6% untuk biaya perumahan/sewa dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Dalam situasi seperti ini, penurunan nilai mata uang dan daya beli masyarakat menjadi tidak terelakkan. Untuk itu, penting bagi kita untuk memiliki strategi yang berbeda dalam mengelola keuangan dan mengambil keputusan investasi di tengah resesi. Menanggapi isu tersebut, PR & Corporate Communication Lead Bibit.id William cenderung memilih untuk berinvestasi reksa dana. Ia pun menjelaskan beberapa alasan mengapa berinvestasi reksa dana adalah pilihan bijaksana yang dapat para investor ambil di tengah kondisi perekonomian yang tidak stabil. Menurutnya, pengelolaan investasi reksa dana dilakukan oleh manajer investasi yang telah Bibit seleksi berdasarkan profesionalitas dan rekam jejak yang baik, investor bisa tidur nyenyak dan tidak perlu memantau perkembangan pasar setiap hari.
“Di Bibit, para investor bisa memanfaatkan fitur Robo Advisor yang membantu investor berinvestasi sesuai dengan profil risiko mereka. Fitur Robo Advisor ini gratis untuk seluruh pengguna,” kata William.
William menambahkan, dalam menghadapi kondisi perekonomian yang penuh ketidakpastian, investor bisa saja memiliki toleransi terhadap risiko yang berbeda-beda. Fitur Robo Advisor membantu investor mengalokasikan uangnya sesuai dengan tujuan keuangan yang ingin mereka capai. Sebagai contoh, untuk investor yang masuk dalam kategori konservatif dan cenderung menghindari risiko, Robo Advisor akan merekomendasikan investor untuk mengalokasikan sebagian besar portofolio investasi ke dalam produk Reksa Dana Pasar Uang dengan tujuan untuk mendapatkan imbal hasil investasi minimal setara bunga deposito.
Sementara itu, untuk investor yang masuk dalam kategori agresif dan cenderung berani mengambil risiko, Robo Advisor akan merekomendasikan investor untuk mengalokasikan sebagian besar portofolio investasi ke dalam produk Reksa Dana Saham dengan tujuan untuk mendapatkan imbal hasil yang jauh di atas bunga deposito. Di Bibit, setiap pengguna akan mendapatkan pengalaman berinvestasi yang personal sesuai dengan profil risiko, kondisi keuangan, dan tujuan keuangan yang hendak mereka capai. Peran Robo Advisor hanyalah memberikan rekomendasi, namun 100% keputusan investasi ada di tangan pengguna.
Metode Dollar Cost Averaging
William menyampaikan bahwa daripada mencoba menebak-nebak ke mana arah pasar, akan lebih bijaksana bagi investor untuk konsisten berinvestasi dan fokus pada tujuan keuangan yang ingin dicapai di kemudian hari. Terkait hal ini, Bibit memiliki fitur Nabung Rutin (autodebet) yang bisa dimanfaatkan oleh pengguna yang telah menggunakan Bank Jago dan GoPay sehingga pengguna bisa berinvestasi secara konsisten dan bebas lupa.
Filosofi di balik fitur Nabung Rutin adalah metode Dollar Cost Averaging (DCA). DCA adalah metode sederhana di mana pengguna menginvestasikan jumlah uang yang sama setiap bulan ataupun setiap minggu. Strategi ini akan membantu pengguna disiplin untuk membeli unit yang lebih banyak pada waktu harga turun dan lebih sedikit pada waktu harga naik. Tanpa harus peduli pada kondisi ekonomi. Tanpa peduli harga sedang naik atau turun. Metode ini juga dianjurkan oleh guru investasi, Warren Buffett.
“Dengan cara-cara investasi yang benar serta fitur-fitur yang Bibit tawarkan, kami mengajak masyarakat untuk tetap tenang dan mengambil keputusan investasi yang tepat dalam menghadapi kondisi perekonomian yang dinamis,” tutup William.

Related