Kanada dan CSIS Soroti Pemulihan Ekonomi Kolaboratif di ASEAN

profile photo reporter Ellyta Rahma
EllytaRahma
01 Maret 2021
marketeers article
Pembahasan mengenai pemulihan ekonomi sudah dilakukan sejak dampak pandemi terhadap ekonomi sudah mulai terasa. Hingga kini, COVID-19 telah mencatat kematian hingga lebih dari 2,4 juta orang di seluruh dunia. Sejumlah bisnis dari berbagai jenjang pun mencatat kerugian yang cukup tinggi akibat rendahnya daya beli dan terhambatnya kegiatan masyarakat.
Center for Strategic and International Studies (CSIS) bekerja sama dengan Perwakilan Pemerintah Kanada untuk ASEAN berupaya mendorong pemulihan ekonomi agar terakselerasi. Diedrah Kelly, Duta Besar Perwakilan Kanada untuk ASEAN mengatakan bahwa upaya pemulihan ekonomi harus melibatkan adaptasi dari berbagai pihak. Mulai dari pemerintah, pelaku bisnis, rumah tangga, hingga individu.
“Kanada mengambil langkah diversifikasi cara kerja dengan ASEAN. Wilayah ini harus menerima sistem ekonomi terbuka untuk mengatasi krisis. Pandangan yang semprit dan proteksionisme tidak dapat digunakan pada prinsip pemulihan secara regional,” katanya.
Menyusul hal ini, Kanada dan ASEAN telah melakukan diskusi penjajakan untuk kemungkinan Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) untuk tahun 2021.
Kerja sama Indo-Pasifik
ASEAN dianggap sebagai kawasan dengan potensi pemulihan ekonomi yang besar. Jonathan Berkshire Miller, Director of Council on Internatonal Policy Kanada mengatakan negara-negara ASEAN memiliki basis aturan dan penganut hukum internasional yang taat. Kecenderungan penyelesaian sengketa secara damai dan penerapan perdagangan terbuka yang transparan menjadi nilai lebih bagi kawasan ini untuk diajak kerja sama.
Kawasan ASEAN juga dianggap memiliki kekuatan ekonomi yang baik. Di tengah ketidakpastian, negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia justru berinovasi dan memfokuskan kawasannya sebagai pusat produksi. “Perjanjian perdagangan bebas (FTA) dan Regional Comprehensive Economy Partnership (RCEP) yang tengah dicanakangkan dapat meningkatkan liberasi dan diversifikasi perdagangan yang dapat mengurangi ketidakpastian,” kata Jonathan.
Sementara itu Peneliti Departemen Hubungan Internasional CSIS Rocky Intan menegaskan kolaborasi ini dapat memperkuat pemulihan pasca pandemi. Kini, negara-negara di dunia tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, namun harus memperkuat tatanan internasional agar dapat mendukung dan mendorong pemulihan satu-sama lain.
“Negara-negara ASEAN harus secara kolektif melibatkan diri dengan Lingkar Pasifik untuk memperkuat tatanan internasional berbasis aturan, kerja sama lanjutan, dan integrasi regional sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi digitl melalui inklusivitas dan memajukan pemberdayaan komunitas rentan,” tambah Rocky.
Kanada dan CSIS berharap terjadi diskusi antardiplomat, pemimpin negara, organisasi masyarakat, dan akademisi. Sehingga, dapat terbentuk dialog kolaborasi untuk memperkuat pemulihan ekonomi.
Editor: Eko Adiwaluyo

Related