Opinion

Lima Kiat Jitu Kandidat Politik Rebut Hati Milenial

Source: 123RF

Mendekati segmen milenial itu gampang-gampang susah. Pasalnya, kelompok ini tergolong kompleks. Salah satunya, kelompok ini tidak gampang dibujuk dengan janji-janji seperti yang sudah dibahas di tulisan sebelumnya berjudul “Milenial Tak Gampang Dibujuk dengan Jargon-Jargon Politik.”

Sebab itu, para kandidat politik, entah dalam kontestasi pemilihan presiden, kepala daerah, maupun anggota legislatif harus benar-benar memahami karakter milenial. Dengan memahami karakter mereka, para kandidat bisa menentukan cara-cara pendekatan yang relevan alias nyambung. Dan, setiap kandidat bisa membangun positioning sebagai sosok yang millennials friendly. Bagaimana caranya?

CEO dan Founder Alvara Research Center Hasanuddin Ali menawarkan lima kiat yang dikenal dengan PANIC – singkatan dari Practicality, Authenticity, Novelty, Interactivity, dan Creativity.

Pertama, Practicality. Di sini, program yang ditawarkan seorang kandidat harus konkret, membumi, dan terukur. Bahasa maupun janji yang disampaikan kepada milenial harus praktis. “Jangan pakai lagi jargon-jargon tinggi yang ngawang-awang dan tak mudah dipahami. Bahasanya harus horizontal karena milenial menganggap orang lain itu setara,” ujar Hasanuddin.

Kedua, Authenticity. Setiap kandidat harus mampu membangun relasi yang penuh ketulusan dengan konstituennya. Kandidat yang mampu menggerakkan dengan karisma dan kekuatan karakter kepemimpinannya. Di sini, bukan berarti pencitraan itu tidak boleh. Boleh, namun tidak kebablasan. Intinya, seorang kandidat di depan milenial harus tampil sealami mungkin, apa adanya, dan tidak ada jarak antara kandidat dan milenial.

Ketiga, Novelty. Milenial tergolong sebagai generasi kepo yang memiliki rasa ingin tahu dan lebih tinggi. Sebab itu, ide dan gagasan yang ditawarkan oleh kandidat harus membawa unsur kebaruan. “Kandidat ditantang mampu mengusung unsur kebaruan dan kejutan,” ujarnya.

Keempat, Interactivity. Milenial tidak suka berkomunikasi satu arah. Mereka lebih menyukai komunikasi timbal balik alias conversation. Kandidat tidak bisa top down dalam mendekati milenial. Internet dan media sosial menjadi pilihan alat komunikasi utama mereka. Sebab itu, kehadiran kandidat di media sosial menjadi sebuah keharusan.

Kelima, Creativity. Karena milenial merupakan generasi kreatif, kandidat perlu mendekati mereka dengan cara-cara kreatif juga. Perlu menggunakan strategi yang out of the box dan sesuai bahasa mereka, dengan mengusung unsur grafis seperti meme dan sebagainya.

Dengan kelima prinsip tersebut diharapkan para kandidat memiliki amunisi kuat dalam mendekati segmen milenial. Bukan asal bidik secara membabi buta, melainkan melakukan stategi yang mengena dan efektif.








To Top