Lifestyle & Entertainment

Lima Strategi Kamar Keluarga Besarkan Potensi Hunian Co-Living

Potensi bisnis di bidang properti terus berkembang. Belakangan, konsep co-living yang mirip-mirip dengan konsep indekos mulai populer. Salah satu pemain bisnis co-living dengan harga terjangkau yang ada saat ini adalah PT Hoppor International atau yang lebih dikenal dengan nama Kamar Keluarga.

CEO Kamar Keluarga Charles Kwok mengatakan pihaknya telah melihat potensi ini sejak beberapa tahun lalu. Ia melihat bahwa masyarakat yang menginginkan hunian dengan konsep co-living sangat besar. Di dalam bisnisnya, Kamar Keluarga membangun konsep co-living yang memiliki ekosistem terpadu dengan jaringan yang luas, layanan lengkap, dan harga yang terjangkau. Saat ini kamar yang dimiliki Kamar Keluarga sebanyak 2.041 di 75 lokasi strategis dan mudah diakses oleh transportasi umum yang berada di Jabodetabek dan Bandung.

“Kami memanfaatkan teknologi berbasis web dan aplikasi untuk memberikan fasilitas dan pelayanan, sehingga seluruh kebutuhan end to end pelanggan dapat terpenuhi hanya dengan telepon genggam saja,” kata Charles.

Menurut Charles, ada lima pilar bisnis yang dikembangkan oleh Kamar Keluarga. Pertama, pilar BOT (build operate transfer). Di pilar ini, Kamar Keluarga membantu pemilik tanah membangun properti dan nantinya menggunakan sistem bagi hasil.

Pilar kedua yaitu Kamar Keluarga (KK) Aset. Kamar Keluarga membantu para investor pemula yang belum pernah berbisnis properti, dalam hal mencari, membangun dan mengelola properti hingga menghasilkan Return of Investment (RoI) yang memuaskan, serta mendukung pertumbuhan ekonomi melalui sektor properti di Indonesia.

Lalu yang ketiga, Kamar Keluarga hanya menjadi Operator. Kamar Keluarga mengelola seluruh lahan yang sudah dijadikan kos dan menerapkan konsep co-living di kosan tersebut. Lalu pilar keempat, yaitu Kamar Keluarga Development yang ahli dalam membangun rumah minimalis, efektif dan efisien sehingga harga terjangkau dapat memanfaatkan lahan yang tersisa.

Lahan sisa tersebut dapat dijadikan rumah minimalis atau bangunan lain guna mendorong para generasi milenial untuk memiliki properti pribadi di masa depan.

Pilar kelima, Kamar Keluarga Vertikal. Memanfaatkan ruang yang ada untuk dijadikan bisnis baru, seperti binatu, warung, atau tempat makan.

“Lengkapnya konsep yang kami tawarkan itu membuat investor dapat memilih sesuai kebutuhannya. Itu yang membuat kami berkembang dengan cepat karena investor diuntungkan,” tutup Charles.

Editor: Sigit Kurniawan








To Top