Government & Public Services

Masa Pandemi, Wonderful Indonesia Diubah Jadi Thoughtful Indonesia

Ilustrasi: Kemenparekraf

Industri pariwisata menjadi salah satu industri yang paling terdampak pandemi COVID-19. Arus wisatawan di dunia maupun di Indonesia terhenti sementara. Hal ini berdampak pada banyak aspek, seperti ekonomi. Sebagai respons terhadap situasi ini, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mengganti sementara logo Wonderful Indonesia menjadi Thoughtful Indonesia.

Hal ini disampaikan oleh Ni Wayan Giri Adnyani, Sekretaris Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam Webinar Industry Roundtable bertajuk Surviving The COVID-19 Preparing The Post dalam perspektif industri pariwisata dan keramahtamahan, Jumat (24/4/2020).

“Di masa tanggap darurat ini, Kemenparekraf mengubah sementara logo Wonderful Indonesia menjadi Thoughtful Indonesia. Ini sebagai wujud keprihatinan pada dunia pariwisata saat ini. Pergantian ini hanya sebagai wujud empati pada kondisi saat ini. Nanti, setelah masa recovery, akan kembali lagi pada Wonderful Indonesia,” ujar Giri.

Logo Thoughtful Indonesia mendapat apresiasi dari publik di Eropa sejak diumumkannya COVID-19 sebagai pandemi oleh WHO. Logo ini juga menjadi landasan utama untuk menghadirkan program-program yang ‘thoughtful’ membantu pelaku dan pekerja di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dalam menghadapi dampak COVID-19. Menparekraf Wishnutama Kusubandio mengatakan, logo ini bagian dari soft promotion.

“Ini bagian dari upaya kami untuk mengomunikasikan bahwa kami berempati dengan situasi saat ini dan we are still Wonderful in many ways,” kata Wishnutama seperti dikutip dari keterangan resmi Kemenparekraf.

Giri mengatakan, Kemenparekraf menyikapi pandemi ini dengan program-program utama, seperti perlindungan sosial, relokasi anggaran untuk program-program semacam padat karya, maupun stimulus ekonomi. Program tersebut dilakukan Kemenparekraf dengan berkolaborasi dengan kementerian dan lembaga terkait, dari Kementerian Sosial, Kementerian Ketenagakerjaan, hingga pemerintah daerah.

Ada tiga fase yang masing-masing menuntut langkah-langkah strategis yang perlu diambil oleh kementerian, yakni fase pandemi, fase recovery, dan fase normalisasi. “Menyikapi kondisi saat ini, para pelaku pariwisata harus tetap optimistis. Memang saat ini menyuguhkan ketidakpastian. Menghadapi ini, kita tidak bisa bekerja sendiri. Kita harus berkolaborasi. COVID-19 mendorong kita untuk berpikir kembali tentang strategi dan target setelah pandemi berakhir,” katanya.

Belajar dari pandemi ini, sambung Giri, sudah saatnya para pemain di industri ini mengembangkan pariwisata berkelanjutan. Giri sepakat dengan Hermawan Kartajaya, Founder dan Chairman MarkPlus, Inc. yang mengatakan Tir Hita Karana di masyarakat Bali sebagai acuan pembangunan wisata berkelanjutan. Pariwisata ini mengandaikan adanya keseimbangan antara nature-culture, people, social-economy, dan god. Elemen-elemen tersebut menurut Hermawan bisa dijadikan sebagai tourism destination compass.

“Tri Hita Karana merupakan filosofi tentang kehidupan yang berbahagia dan ini representasi dari pariwisata berkelanjutan. Implementasinya dilakukan dengan menempatkan individu sebagai subjek perubahan. Ada hubungan seimbang antara manusia dengan sesamanya, manusia dengan penciptanya, dan manusia dengan lingkungannya. Indonesia sebenarnya memiliki banyak nilai-nilai universal seperti Tri Hita Karana yang tersebar di pelosok Indonesia,” pungkas Giri.

MARKETEERS X








To Top