Consumer Goods

Regenerasi dan Harga, Masalah Peternak Susu Sapi Indonesia

Susu Sapi
Photo Credit: rtf123.com

Rencana pemerintah menyiapkan aturan untuk menentukan harga dasar (floor price) susu segar dalam negeri (SSDN) mendapat respon dari para pabrikan susu. Floor price diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan peternak susu sapi perah. Namun, ada komponen lain yang mesti diperhatikan pemerintah selain menyoalkan harga dasar.

Pendapat tersebut disampaikan oleh Doni Wibisono Wiroto, Public Affairs Manager PT Frisian Flag Indonesia. Dia mengatakan, selain harga, berbagai komponen lain seperti pemeliharan sapi, pakan ternak, dan pengadaan konsentrat turut menjadi penentu harga di tingkat peternak.

“Komponen-komponen itu masih belum seragam di antara peternak. Ini juga yang mesti diatur (oleh pemerintah),” kata Doni saat ditemui Marketeers di Midtown Senopati, Jakarta, Kamis, (26/1/2017).

Doni menyadari bahwa dengan adanya floor price itu, para peternak sapi akan semakin semangat memproduksi susu segar, sehingga diharapkan kesejahteraan mereka kian meningkat. Akan tetapi, volume produksi pun tak cukup membantu apabila tidak diimbangi dengan kualitas susu.

“Selain produksi yang meningkat, kualitas susu juga harus ditingkatkan. Agar kualitas meningkat, komponen-komponen itu harus diperhatikan,” tuturnya lagi.

Di sisi lain, Wakil Ketua APSPI (Asosiasi Peternak Sapi Perah Indonesia) Heru S Prabowo menyatakan bahwa rendahnya harga SSDN di tingkat peternak menjadi alasan para peternak enggan memelihara sapi perah.

Ia bilang, harga susu sapi segar di tingkat peternak saat ini berkisar antara Rp 5.000-Rp 5.500 rupiah per liter. “Idealnya, Rp 6.000 per liter, sehingga peternak sapi bisa memperoleh pendapatan minimal Rp 1,9 juta per bulan,” hitungnya.

Bantuan Industri

Sebenarnya, banyak hal yang bisa dilakukan pelaku industri susu dalam meningkatkan kualitas susu dari para peternak sapi. Pembinaan secara berkesinambungan adalah salah satu yang bisa dilakukan.

Seperti yang dilakukan Frisian Flag Indonesia dan Pemerintah Belanda yang sejak tahun 2013 mengalokasikan dana 10 juta euro atau setara Rp 148,88 miliar untuk membantu pengembangan peternak sapi perah di tiga wilayah, yaitu Pengalengan, Lembang, dan Pasuruan.

“Kami transfer pengetahuan ke para peternak dalam negeri, dengan tujuan produksi dan kualitas susu mereka meningkat. Dan ini terbukti, produksi per ekor sapi meningkat dari 11-12 liter per hari, menjadi 20-25 liter per hari,” ujarnya yang mengaku perusahaannya telah bekerja sama dengan ribuan peternak sapi di Indonesia.

Dengan cara itu, sambung Doni, Frisian Flag dapat mengurangi ketergantungan impor susu yang sampai saat ini menguasai 70% dari kebutuhan bahan baku produksi susu Frisian.

Impor susu memang tak terlekkan lagi, sebab supply yang tersedia tak mencukupi demand yang ada. Berdasarkan catatan Kementerian Perindustrian, kebutuhan bahan baku susu segar dalam negeri (SSDN) untuk susu olahan saat ini sebanyak 3,8 juta ton. Sementara itu, pasokan bahan baku susu segar yang diperah di dalam negeri hanya 798.000 ton.

Artinya, 3,1 juta ton susu segar masih diimpor dari luar negeri, khususnya dari Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, dan beberapa negera Eropa dalam bentuk bubuk susu skim, anhydrous milk fat, dan butter milk powder.

Doni juga mengungkapkan, kendala lain di industri sapi perah adalah regenerasi peternak. Ia menyebut, rata-rata peternak di Indonesia berusia di atas 45 tahun. Sedangkan, anak-anak mereka enggan untuk berkarier di jalur serupa karena menganggap bisnis peternak sapi tak potensial.

Karena itu, perusahaan di bawah naungan Friesland Campina asal Belanda ini meluncurkan program FF Farmer Academy, yang bertujuan meregenerasi peternak sapi di Tanah Air.

“Paling tidak, generasi mudah meneruskan usaha orangtuanya dan mengedukasi bahwa peternak sapi adalah profesi yang menjanjikan jika dikelola secara profesional,” terangnya.

Regenerasi juga harus dibarengi dengan pengaplikasian teknologi modern dalam beternak sapi. Pasalnya, baru 1% dari peternak di 97 koperasi yang tergabung dalam Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKBI) telah menjalani prinsip peternakan modern alias memerah susu dengan mesin.

Artinya, mayoritas peternak masih memerah susu sapi menggunakan tangan, yang membuat tidak efisien apabila ingin memproduksi susu perah dalam jumlah besar.

Maka itu, Doni bilang, pemain indusri bisa memberikan bantuan infrastruktur berupa mesin perah ataupun alat milk collection point. Alat ini bisa digunakan peternak untuk menguji kadar bakteri sebelum susu dituang ke tangki untuk didistribusikan.

Berbagai cara tersebut pada ahirnya membantu penyerapan susu peternak lokal di tingkat industri, yang berujung pada pengurangan impor susu. Dengan cara ini, harga susu di tingkat konsumen diharapkan dapat terjangkau, sehingga semakin banyak masyarakat yang mengonsumsi susu.

Apalagi, konsumsi susu per kapita di Indonesia adalah satu yang terrendah di kawasan Asia Tenggara. Data dari Nielsen RUU Data (non-projected) 2014 menyebut, konsumsi susu di Indonesia baru 12 liter per orang/tahun. Angka tersebut masih jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara tetangga seperti Malaysia (39 liter), Vietnam (20 liter), dan Thailand (17 liter).

Mampukah industri sapi perah tingkat peternak akan meningkat dengan adanya regulasi floor price itu? Kita lihat saja.

Editor: Sigit Kurniawan

MARKETEERS X








To Top