Communication

Mengenal Sembilan Tren dan Tantangan Humas di Asia Pasifik

Photo Credits: 123rf

Deretan insight dibagikan para praktisi profesional di sektor hubungan masyarakat (Humas) dan komunikasi dalam gelaran PR Newswire’s Communications Forum 2019 beberapa waktu lalu. Sejumlah pembicara dan panelis ternama dari The Wall Street Journal, Holmes Report, Bloomberg, Microsoft, ZTE Corporation, Trip.com Group, Tencent, dan Ogilvy pun memaparkan tren-tren komunikasi terkini yang patut dipahami para humas di Asia Pasifik. Berikut ini sembilan poin penting di antaranya.

 Earned Media Kian Relevan

Sebagai konsekuensi dari arus kunjungan web atau trafik palsu (invalid), paid media pun mengalami kemandekan pada tahun 2019. Pada tahun ini, alokasi pengeluaran untuk earned media hanya mencapai 0,5% dari total belanja humas, dibandingkan dengan 95% alokasi untuk paid media dan 4,5% untuk owned media.

Namun, Presiden PR Newswire Asia Pasifik Yujie Chen menanggapi, hal ini membuat earned media akan tampil kembali sebagai kanal komunikasi yang lebih baik meski telah lama diabaikan.

Video, Narasi, dan Cara Bercerita Berperan Penting

Communications & Public Affairs Vice President Microsoft Rong Shang mengatakan, 82% konten yang dikonsumsi pada era digital merupakan video. Namun, hal ini terjadi di era 4G. Sementara, era 5G segera hadir.

“Tren ini dapat berubah, meski kita belum diketahui konten apa yang paling digemari pada dekade 2020-an. Tapi, kita sadar apa pun bentuk kontennya, narasi dan cara bercerita (storytelling) tetap relevan,” ujar Rong Shang.

Jangan Lupa Internet adalah Ruang Visual

Internet memiliki karakteristik sebagai ruang visual. Hal ini mencakup gambar, video, dan rekaman wawancara. Alyssa McDonald, Redaktur Pelaksana Asia Digital Bloomberg berpendapat, perusahaan perlu ditempatkan di dalam narasi yang lebih luas.  Lakukan pendekatan kepada media dengan mengangkat topik-topik yang tengah hangat dibicarakan.

“Anda dapat menempatkan diri dalam narasi persoalan yang tengah hangat dibicarakan di kawasan yang berkaitan. Misalnya di kawasan Asia Pasifik, media kerap membicarakan mengenai topik perdagangan Amerika Serikat (AS)-Tiongkok, tingkat kesejahteraan dan aspirasi global Tiongkok, perubahan iklim, perekonomian global, resesi AS, teknologi-teknologi baru, pemilu AS, serta Olimpiade, dan Anda harus mampu memahami hal ini,” jelas Alyssa.

Kunci Membangun Merek Premium Terletak pada Tingkat Kesadaran Konsumen

Ketika meluncurkan Asia-Pasific Communications Report (APAC Comms Report), Head of Audience Development PR Newswire Lynn Liu memaparkan, 59% perusahaan memprioritaskan pencitraan merek (branding) ketimbang metrik konversi penjualan.

Ia meyakini, konversi tidak terjadi begitu saja. “Sumbernya adalah merek Anda,” ujar Liu. Sehingga, Anda perlu membangun merek premium dengan nilai tambah yang lebih besar, bukan hanya dalam aspek produk, melainkan juga pencitraan merek.

“Upaya untuk meningkatkan kesadaran dan mengubah perilaku konsumen merupakan proses yang lama. Namun, pengaruhnya terhadap penjualan dan pertumbuhan jangka panjang tak dapat diabaikan,” jelas Liu.

Tren Konsolidasi Perangkat Lunak Kian Populer

Konten masih dianggap sebagai raja, namun perangkat industri belum menyandang status yang sama. Ulrik Larsen, President Cision Social dalam PR Newswire’s Communications Forum 2019 mengulas mengenai kebutuhan dan tren yang kian berkembang untuk konsolidasi perangkat lunak. Hal ini ditempuh untuk meningkatkan mutu komunikasi pada seluruh life cycle. Ia yakin, jika layanan-layanan tersebut semakin terkonsolidasi, hal yang sama juga terjadi untuk jabatan kerja.

Perangi Kabar Palsu

Arun Sudhaman, CEO & Pemimpin Redaksi Holmes Report memandang, tatanan media saat ini nampak simpang siur. Para praktisi humas pun dituntut untuk bersikap lebih proaktif dan menjadi pihak yang berperan positif.

Hal tersebut dapat dilakukan dengan menyajikan kreativitas nyata kepada media dan audiens. Ia menilai, industri humas wajib menolak godaan untuk memanfaatkan platform media sosial sebagai sarana penyebarluasan kabar palsu. Mereka perlu memeranginya dengan menyediakan konten unik, autentik, dan bernilai tambah.

Menjangkau Publisitas Internasional Masih Jadi Tantangan

Mendapat atensi publik di ranah internasional masih jadi tantangan. Leah Wang, Head of International Affairs Trip.com pun mengakui kesulitan yang mereka hadapi dalam upaya menjangkau publisitas internasional.

“Kami memilih menjangkau mitra lokal untuk menjangkau publisitas internasional. Trip.com memperoleh publisitas secara organik melalui konten khusus yang dilokalisasi,” tutur Leah Wang.

Dengan cara tersebut, merek Trip.com pun kian dikenal media-media digital, konvensional, dan industri. Berbagai kanal ini ikut memperluas dan mengembangkan audiens Trip.com.

Raih Kepercayaan dengan Memengaruhi Rekan Kerja

ZTE Corporation mengklaim diri berhasil memperoleh kepercayaan di pasar internasional dengan memengaruhi rekan kerja perusahaan. Dai Shu, VP & GM of Branding, ZTE Corporation mengatakan, di banyak pasar internasional, media lokal dianggap sebagai rekan kerja. Itu sebabnya, earned media berperan penting bagi kalangan perusahaan yang ingin berkiprah di arena global.

Hubungan Terbuka dengan Audiens Jadi Kunci Penting dalam Kiprah Global

Keterbukaan dengan audiens menjadi kunci penting untuk membangun kiprah di ranah global. Menurut Lyndon Cao, Senior Director of Marketing OnePlus, ada dua poin penting yang harus diperhatikan dalam membangun merek.

Pertama, bertindaklah dengan integritas dan kejujuran ketika menyampaikan brand promise. Benahi hal-hal dasar sebelum berkiprah ke ranah global. Kedua, jalinlah hubungan terbuka dengan para pengguna untuk menciptakan produk-produk baru yang lebih baik.

Editor: Sigit Kurniawan

MARKETEERS X








To Top