Retail & Property

Menilik Diferensiasi WYNDHAM di Era Sustainable Tourism

Photo Credits: Marketeers

Isu environmental sustainability kian seksi di dalam industri hospitality. Tak bisa sekadar berorientasi pada profit, pelaku bisnis hospitality dituntut memperhatikan indikator people dan planet dalam menjalani bisnis.  Tak ingin terlambat ambil langkah, pemain waralaba di bidang perhotelan, WYNDHAM menjadikan environmental sustainability sebagai diferensiasi di antara kompetitor lain.

Bicara soal isu environmental sustainability, tak dipungkiri membawa sedikit-banyak perubahan terhadap kehidupan para konsumen. Tren gaya hidup hijau nyatanya juga diadopsi oleh sektor pariwisata. Era sustainable tourism pun di mulai, dan para pemain dituntut untuk mampu beradaptasi.

Pasalnya, sejumlah penelitian menemukan, wisatawan saat ini cenderung memilih akomodasi atau pun destinasi pariwisata yang ramah lingkungan. Survei global TUI pada 2017 menemukan, dua pertiga dari wisatawan ingin melakukan pertukaran gaya hidup untuk memberi manfaat bagi lingkungan.

WYNDHAM pun menjadikan hal ini sebagai competitive advantage bagi bisnis mereka. Berbagai aktivitas ramah lingkungan diimplementasikan, baik secara internal (organisasi), maupun eksternal (pasar).

Dari sisi organisasi, penerapan operasional hotel WYNDHAM dilakukan dengan berwawasan ramah lingkungan. Mulai dari meniadakan penggunaan plastik, botol sekali pakai, kertas yang tidak dibutuhkan, sisa makanan yang tidak terkontrol, hingga hal-hal yang menghasilkan kompos kimia.

Yang menarik, WYNDHAM turut melibatkan seluruh elemen di dalam organisasi mereka untuk menerapkan gaya hidup sehat. Bahkan, keluarga karyawan sekali pun.

“WYNDHAM merupakan hotel pertama yang membuat program khusus bagi karyawan kami bersama keluarganya untuk menjalani gaya hidup sehat. Kami menghadirkan berbagai pembicara dari kalangan ahli untuk mengedukasi karyawan kami dan keluarga mereka mengenai nutrisi, aktivitas fisik, dan hal-hal yang mendukung gaya hidup sehat. Program ini bukan sekadar dua atau tiga bulan berjalan, melainkan berkelanjutan,” terang Paolo Randone, General Manager of WYNDHAM Casablanca dalam gelaran Jakarta CMO Club di WYNDHAM Casablanca Jakarta, Rabu (15/01/2020).

Sementara, dari sisi eksternal, WYNDHAM mengajak para tamu untuk turut serta menjadi bagian dari pelestarian lingkungan. Bahkan, WYNDHAM memiliki program khusus yang fokus bergerak di ranah edukasi dan inovasi pelestarian lingkuran dan telah berjalan selama 12 tahun (WYNDGREEN).

“Para tamu kami libatkan untuk turut serta dalam berbagai aktivitas lingkungan kami, seperti gerakan penanaman seribu pohon yang kami lakukan beberapa waktu lalu di Bali. Secara lebih luas, kami juga menggandeng berbagai lembaga pemerintahan, aktivis lingkungan, dan masyarakat untuk bergabung dalam kegiatan pelestarian lingkungan,” terang Paolo.

Jangan Lupakan Pilar Ekonomi

Pertanyaan yang kerap muncul dari para investor ketika berbicara mengenai bisnis berbasis environmental sustainability adalah, “apakah model bisnis ini dapat memberikan profit yang menjanjikan?”

Bagi WYNDHAM, hal ini terbilang profitable. Asalkan, perusahaan mampu melakukan planning yang tepat sejak awal.

“Kalau dihitung-hitung, model bisnis ini jelas dapat mengurangi banyak cost yang dikeluarkan perusahaan. Sebab, operasionalisasi pada green-hotel mengedepankan zero-wasted. Selain itu, hal ini menjadi strategi public relations yang bagus untuk membangun citra positif perusahaan,” ungkap Paolo.

Di sisi lain, Pakar pemasaran sekaligus Tri-Founder of Philip Kotler Center for ASEAN Marketing Hermawan Kartajaya mengapresiasi langkah WYNDHAM di era sustainable tourism ini.

“Marketing itu soal Positioning, Differentiation, dan Branding (PDB). Meskipun nanti semua pemain akan sadar soal environmental sustainability, tapi apakah sekarang waktu yang tepat untuk menerapkan hal ini? Ketika belum banyak pemain yang bergerak ke arah sana, WYNDHAM justru berani bergerak lebih dulu,” imbuh Hermawan.

Tak hanya itu, PDB bukan hanya ditujukan terhadap eksternal (pasar), melainkan internal sekali pun. Langkah yang dilakukan WYNDHAM dinilai Hermawan sudah tepat karena diferensiasi yang dibawa keluar juga harus dipasarkan ke dalam perusahaan.

Editor: Sigit Kurniawan








To Top