Transportation & Logistic

MRT Hadirkan Pengalaman Baru di Jakarta

Pada akhir Maret 2019, Jakarta resmi memiliki moda transportasi Mass Rapid Transit (MRT) untuk pertama kalinya. Setelah melalui proses pembangunan, akhirnya MRT Jakarta melayani rute fase I, yang menghubungkan Stasiun Bundaran Hotel Indonesia dengan Stasiun Lebak Bulus. Kehadiran MRT ini memberikan nafas baru bagi problematik transportasi dan mobilitas masyarakat Jakarta dan sekitarnya.

Setelah peresmiannya, PT MRT Jakarta pun langsung bersiap melanjutkan rute fase II yang menghubungkan Stasiun Bundaran Hotel Indonesia dengan Stasiun Kota. Sampai dengan tahun 2030 nanti, PT MRT Jakarta berencana membangun lintasan sepanjang 231 km dan menghubungkan mayoritas wilayah di Jakarta.

“Kami memiliki kapasitas penumpang yang terbesar untuk transportasi di dalam kota. Selain itu, kami juga yang paling cepat,” ujar Muhamad Kamaluddin, Corporate Secretary Division Head PT MRT Jakarta.

Nantinya, bersama dengan Transjakarta, Light Rapid Transportation (LRT), dan Commuter Line, MRT akan menjadi motor dari mobilitas masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Visi masa depan dari integrasi transportasi umum ini adalah masyarakat Jakarta akan terhubung dengan salah satu sistem transportasi tersebut maksimal dalam jarak 500 m.

Tiga bulan sejak diresmikan, Kamal menilai bahwa antusias masyarakat Jakarta terhadap kehadiran MRT sangat positif. Pada masa awal, PT MRT Jakarta juga melakukan serangkaian promo untuk menarik minat masyarakat. Hingga baru pada pertengahan Mei lalu, MRT melakukan tarif normal tanpa potongan diskon. “Dengan harga normal, volumenya pun tidak turun signifikan. Bahkan, pada bulan puasa lalu, volume hariannya masih memuaskan,” katanya.

Sebagai catatan, PT MRT Jakarta mematok tarif minimal sebesar Rp 3.000 dan tarif maksimal sebesar Rp 14.000. Pengguna MRT dapat melakukan pembayaran dengan menggunakan kartu Jelajah Single Trip yang dikeluarkan oleh PT MRT Jakarta, yang dapat diperoleh di mesin penjual tiket dan loket di setiap stasiun MRT Jakarta. Atau menggunakan kartu JakLingko, serta kartu uang elektronik yang dikeluarkan oleh Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Central Asia (BCA), dan Bank DKI.

Selama masa tiga bulan ini, MRT berhasil mengangkut rata-rata 80.000 penumpang setiap harinya. Stasiun Bundaran HI, Dukuh Atas BNI, dan Lebak Bulus Grab menunjukkan grafik penggunaan tertinggi dari stasiun lainnya. Volume tertinggi bisa ditemukan pada hari Jumat, dengan tingkat penumpang harian mencapai 85.000-90.000 orang per hari.

“Kami melihat bahwa animo masyarakat tinggi dan mereka memang membutuhkan moda transportasi yang bisa diandalkan, nyaman, dan aman,” tambah Kamal.

Berdasarkan analisis terhadap realisasi perjalanan kereta selama periode tanggal 1-26 Mei 2019 lalu, pencapaian ketepatan waktu kereta MRT Jakarta menunjukkan angka rata-rata di atas 99,9%. Ketepatan waktu tersebut terdiri dari tiga aspek. Pertama, ketepatan waktu tempuh perjalanan mencapai 99,95%. Kedua, ketepatan waktu kedatangan antarstasiun mencapai 99,92%. Ketiga, ketepatan waktu berhenti di setiap stasiun mencapai 99,93%. Kecanggihan teknologi, sistem, plus keandalan SDM menjadi kunci sukses dari MRT Jakarta ini

MRT beroperasi dari pukul 05:00 hingga 24:00 setiap harinya. Selang waktu keberangkatan antarrangkaian kereta pada waktu sibuk setiap lima menit dan 10 menit di luar waktu sibuk dengan operasional 14 rangkaian kereta atau sebanyak 285 perjalanan per hari. Sedangkan pada akhir pekan, MRT menggunakan tujuh rangkaian kereta dengan selang waktu keberangkatan setiap 10 menit atau 219 perjalanan per hari.

Hingga akhir tahun, MRT Jakarta menargetkan bisa mendapatkan penumpang harian sebesar 100.000 orang per hari. Sejumlah upaya dilakukan untuk meningkatkan penggunaan. Misal potongan harga bagi konsumen  di gerai tertentu di pusat perbelanjaan sepanjang koridor MRT Jakarta. Artinya, MRT Jakarta tidak hanya menjadi sarana transportasi, melainkan juga mendukung gaya hidup baru masyarakat Jakarta.

Berbagai kampanye terus dilahirkan MRT Jakarta. Misalnya meluncurkan program tur grup atau kelompok dengan pemandu dari tim MRT Jakarta seperti yang dilakukan pada musim liburan Lebaran 2019 lalu. Kampanye ini bisa menarik lebih dari 60-an grup yang terdiri dari 380 lebih penumpang. Setiap pemandu juga menceritakan sejarah gagasan pembangunan MRT Jakarta hingga hadir saat ini. Sehingga, masyarakat bisa mengetahui bagaimana pengoperasian serta layanan yang diberikan MRT Jakarta.

MRT Jakarta juga melakukan sejumlah upaya guna meningkatkan layanan penumpang, seperti membuka gerai penambahan (topup) saldo dan penjualan kartu bank di setiap stasiun MRT Jakarta, penambahan rambu atau signage imbauan hal-hal yang tidak boleh dilakukan di dalam stasiun dan kereta serta informasi nomor aduan, penambahan tenaga pendukung untuk membantu masyarakat ketika membeli tiket melalui mesin penjual tiket, serta menambah personel di stasiun yang memiliki tingkat lalu lalang tinggi

Selain meraup keuntungan melalui fare-box revenue, MRT Jakarta juga mengoptimalkan pendapatan dari sisi non-fare box business melalui beragam strategi iklan dan branding. Beberapa di antaranya dengan memasang iklan dan penamaan nama stasiun.

Menurut Kamal, strategi branding dengan penamaan nama stasiun merupakan yang paling strategis. Sampai saat ini sudah ada beberapa brand yang namanya diabadikan sebagai nama stasiun, yakni Bank Mandiri pada stasiun Istora Mandiri, Astra Internasional pada stasiun Setiabudi Astra, Grab pada stasiun Lebak Bulus Grab, dan Bank BNI di stasiun Dukuh Atas BNI. “Tidak semua stasiun kami buka lelangnya untuk penamaan stasiun.”

Hal ini dilakukan sebab erat kaitannya dengan perencanaan perjalanan masyarakat. Dengan penamaan stasiun tersebut, MRT membuka peluang nama merek-merek tersebut semakin melekat di masyarakat. Khususnya, mereka yang memang memiliki gedung utama di sekitaran stasiun tersebut. Sehingga penamaan stasiun tersebut juga menjadi landmark kota.

MRT Jakarta melihat bahwa keberadaan MRT saat ini telah banyak membantu masyarakat. Sebagai contoh, banyak pegawai di kawasan Lebak Bulus hingga Thamrin yang melakukan meeting atau makan siang dengan menggunakan MRT. Karenanya, MRT Jakarta akan berupaya meningkatkan kerja sama dengan brandbrand lain di luar pemasangan iklan semata.  Salah satunya dengan melakukan kerja sama dengan pusat hiburan, olahraga, dan restoran.

“Contohnya dengan memberikan potongan harga di restoran atau mitra lainnya hanya dengan menunjukkan struk perjalanan mereka. Pendekatan dengan para pengembang properti pun saat ini sedang intens,” terang Kamal.

Bagi Kamal, walaupun MRT diminati oleh masyarakat, tapi masih perlu upaya untuk menjadikan MRT sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. “Jadi tidak hanya kantor dan pusat hiburan saja, tapi tempat tinggal juga. Semua yang berkaitan dengan mobilitas masyarakat akan dipromosikan,” tambahnya.

Untuk para peritel pun, MRT memberikan ruang yang luas bagi para merek. Bahkan, saat ini sedang disiapkan beberapa stasiun yang nantinya akan diisi oleh para pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UKM) terpilih. MRT Jakarta menilai bahwa outlet itu nanti tidak hanya sebagai sarana pamer produk, namun juga branding yang kuat.

Brand tidak hanya bersaing lewat promosi saja. Tapi juga memberikan pengalaman kepada para konsumen,” pungkas Kamal.








To Top