Lifestyle

Neuronesia Kenalkan Neuroscience untuk Parenting

Sumber: 123rf

Di zaman sekarang, teknologi informasi telah membawa perubahan di banyak lini kehidupan manusia. Teknologi tidak hanya berdampak pada orang  dewasa, tapi juga kepada anak-anak.

Neuronesia, komunitas pecinta ilmu neurosains Indonesia menggelar seminar neuroparenting. Dalam seminar ini, banyak orang tua yang mengatakan games, video games, dan online video games  berdampak buruk karena dapat merusak otak dan kesehatan anak mereka. Sebaliknya, beberapa audiens mengatakan teknologi dapat berdampak positif jika dilihat dari kemampuan games untuk meningkatkan kinerja otak anak.

“Masalah yang terjadi pada anak tidak lepas dari urusan kedua orang tuanya, termasuk permasalahan dampak teknologi. Orang tua sebaiknya tidak menolak perkembangan teknologi, tapi justru melihat hal positif dari teknologi dengan menghindari dampak negatifnya,” ujar Amir Zuhdi, dokter ahli neurosains dan Co-Founder Neuronesia di Jakarta, Minggu (16/10/2019).

Banyak games yang bermanfaat bagi anak. Misalnya, dapat meningkatkan fungsi kognitif PFC (prefrontal cortex). Ada pula yang membantu menumbuhkan keterampilan otak emosi sistem limbik anak. Amir menambahkan, games bisa mendorong perkembangan gerak neuron-neuron motorik dan keseimbangan otak.

Neuronesia kemudian memeperkenalkan pola pengasuhan anak berbasiskan kinerja otak atau disebut neuroscience for parenting. Dengan pola pengasuhan ini, orang tua bisa mengenali bagaimana otak anak bekerja untuk menentukan bagaimana mereka mendidik anaknya. Dengan pola pengasuhan yang disesuaikan, orang tua akan lebih mengenali anaknya dan membentuk anaknya sesuai dengan potensi masing-masing.

“Salah satu kunci sukses pengasuhan dalam menyikapi kemajuan teknologi terutama yang terkait dengan games adalah komunikasi orang tua dengan anaknya. Dengan mengetahui cara kerja otak anak, orang tua bisa menggunakan keterikatan emosi dengan anak, sehingga hubungan akan semakin kuat dan akan semakin mudah orang tua untuk mendidik dan mendampingi mereka,” tutup Bambang Iman Santoso, CEO NLC Neuronesia Learning Center.

Editor: Sigit Kurniawan

Most Popular








To Top