Penetrasi Digital Industri Kesehatan & Peluang untuk Dunia Kesehatan Indonesia

profile photo reporter Marketeers
Marketeers
01 Oktober 2021
marketeers article
Dalam dua tahun terakhir, seluruh dunia dikejutkan oleh tragedi yang mengubah berbagai aspek kehidupan manusia. Munculnya Pandemi COVID – 19 menimbulkan keterkejutan dan kekhawatiran dari seluruh lapisan masyarakat hingga pelaku industri. Terlepas dari semua dampak negatif yang dibawa, pandemi ini semakin membuka mata banyak pihak akan pentingnya percepatan inovasi dan pengembangan ide kreatif, termasuk pada industri healthcare untuk dapat memahami tingkat digitalisasi dan upaya organisasi healthcare mengadaptasi teknologi digital.
Peluang tersebut ditangkap oleh BitHealth. Menjadi penyedia solusi kesehatan digital, misi utama BitHealth adalah menjadi mitra solusi digital terpercaya dalam menciptakan berbagai dampak positif dengan meciptakan solusi yang modern namun praktis di berbagai masalah dan kondisi yang ada untuk mewujudukan dunia Kesehatan yang lebih baik dan berkualitas.
Perusahaan juga ingin membantu kesejahteraan masyarakat Indonesia di masa kini dan masa yang akan datang. BitHealth pun mengkhususkan diri dalam transformasi digital dalam memajukan ekosistem perawatan kesehatan di Indonesia.
Berangkat dari tujuan mulia tersebut, BitHealth berinisiatif mengadakan riset kepada berbagai chain hospital, rumah sakit swasta, rumah sakit pemerintah, asosiasi rumah sakit, hingga Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Tak sendirian, perusahaan berkolaborasi dengan MarkPlus, Inc. sebagai lembaga riset terpercaya di Indonesia yang telah memiliki banyak kompetensi dan pengalaman dalam dunia research. Riset ini ditujukan untuk memunculkan berbagai sudut pandang menarik yang dapat menginspirasi khalayak luas akan perkembangan digital di Indonesia.
Melalui riset yang telah dilakukan, teknologi digital terbukti memainkan peran kunci untuk kemajuan industri healthcare. Tidak dapat dipungkiri, bahwa semua pelaku industri harus mulai beradaptasi pada dunia digital agar tidak mengalami ketertinggalan dan dapat semakin menyejahterakan masyarakat.
Dalam wawancara yang dilakukan oleh MarkPlus, Inc., Dr.dr. Fathema Djan Rachmat, Sp.B, Sp.BTKV (K), MPH sebagai Direktur Utama PT Pertamina Bina Medika IHC menyatakan bahwa rumah sakit di Indonesia harus mampu menciptakan suatu ekosistem digital healthcare yang bisa dipercaya, sehingga dapat membangun trust masyarakat. Ekosistem digital healthcare merupakan sebuah konsep yang mengubah layanan yang berpusat pada organisasi menjadi layanan yang berpusat pada pasien dengan memfasilitasi kolaborasi lintas organisasi melalui teknologi digital.
Konsep ini sejalan dengan buku Marketing 5.0, yang memetakan berbagai teknologi digital ke dalam lima kategori, yaitu Data-Driven Technology, Predictive Technology, Contextual Technology, Augmented Technology, dan Agile Technology.
Untuk mengukur tingkat efektivitas dari inovasi teknologi digital yang ada atau telah diadaptasi, masing-masing rumah sakit dan lembaga kesehatan memiliki metode dan teknik tersendiri. Contohnya, RS PHC Surabaya yang menggunakan aplikasi PHC care sebagai CRM dan melakukan survei secara kuantitatif kepada customer-nya melalui aplikasi tersebut. Selain itu, metode kualitatif juga dilakukan dengan menyerap pendapat dari tim internal RS PHC.
Berdasarkan riset yang telah dilakukan, ditemukan bahwa Data-Driven Technology dan Augmented Technology (kecuali teknologi terkait tele-rehabilitation) merupakan teknologi yang telah diterapkan di hampir seluruh rumah sakit Indonesia saat ini, dengan tingkat relevansi mencapai 53% hingga 100%. Artinya, seluruh rumah sakit yang berpartisipasi dalam riset ini menganggap teknologi tersebut memang relevan untuk diterapkan.
Lebih dari 70% rumah sakit yang berpartisipasi dalam riset ini telah menggunakan sistem informasi rumah sakit, electronic medical record, portal data pasien, teleconsultation, pengiriman obat secara online, serta edukasi kesehatan secara digital. RS Omni di bawah Emtek bahkan memiliki tiga sistem informasi berbeda untuk enam rumah sakit yang dimiliki untuk melihat sistem informasi mana yang menghasilkan efisiensi serta efektivitas terbaik.
Di sisi lain, teknologi yang bersifat kontekstual dan agile masih dianggap kurang relevan untuk digunakan di rumah sakit Indonesia saat ini. Dengan kendala utama dari segi biaya investasi yang besarnya tidak sebanding dengan kebutuhan dan daya beli masyarakat Indonesia, seperti personalized medicine, 3D Printing (untuk gigi, organ tubuh, dll.), hingga digital therapeutic remote monitoring yang baru digunakan oleh satu atau dua dari 15 rumah sakit yang berpartisipasi dalam riset ini. Tidak hanya itu, lebih dari 50% rumah sakit menilai bahwa teknologi tersebut memang masih belum relevan.
Meski demikian, sebagian teknologi kontekstual sudah mulai digunakan di sebagian rumah sakit, khususnya terkait penjadwalan follow up pasien yang bersifat digital dan personalized. Kedua teknologi ini telah mencapai tingkat efektivitas sekitar 26% hingga 76%.
Di samping penjadwalan, teknologi health & lifestyle tracker yang memampukan rumah sakit melayani secara agile juga telah dianggap cukup relevan dengan tingkat relevansi mencapai 40% hingga 67%, meski belum banyak digunakan saat ini. Namun, penggunaannya untuk keperluan medis masih dalam tahap peninjauan khususnya terkait keandalan data yang dibaca oleh perangkat tracker tersebut.
Serupa dengan teknologi health & lifestyle tracker, teknologi prediktif juga telah dianggap cukup relevan oleh lebih dari 76% rumah sakit yang berpartisipasi dalam riset ini, meskipun yang menggunakan hanya sekitar satu hinggaa empat dari 15 rumah sakit yang ada (AI umumnya digunakan untuk mambantu dokter melakukan analisa foto).
Sebagian dokter berpendapat bahwa artificial intelligence yang ada saat ini belum cukup untuk membaca pola penyakit yang bervariasi, terus berubah, dan cenderung tidak memiliki pola yang seragam. Maka dari itu, penggunaan teknologi prediktif harus tetap dilakukan dalam pemantauan dokter ahli.
Tingginya ketidakpastian dalam dunia medis juga menjadi tantangan dalam pengembangan teknologi clinical pathway optimization, sehingga saat ini teknologi serupa baru lazim digunakan untuk memastikan kesesuaian pemberian obat di e-resep (tidak ada obat yang saling meniadakan efek / obat yang memiliki efek bertentangan).
Ilustrasi 2: Skor Relevansi Teknologi
Tingkat digitalisasi sangat bervariasi di berbagai rumah sakit. Contohnya, terdapat rumah sakit di bawah holding Pertamedika IHC yang telah menggunakan teknologi hologram hingga robot untuk melayani dan menghibur pasien COVID-19.
Group rumah sakit Hermina juga tengah mengembangkan layanan digital yang bersifat end to end, mulai dari pendaftaran hingga follow up dan home service yang telah digunakan oleh 50% dari seluruh pasien yang mereka layani, baik yang menggunakan jaminan BPJS maupun non-BPJS.
Bukan hanya sebatas digitalisasi internal, berbagai rumah sakit juga tengah mengembangkan integrated electronic medical record sehingga data pasien yang dirujuk dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain dapat dikirimkan dengan cepat, seperti program yang tengah dijalankan oleh Rumah Sakit Mitra Keluarga yang dinilai telah mencapai tingkat efektivitas hingga 100 persen.
Secara umum, terdapat dua atribut besar yang dapat membantu rumah sakit menilai apakah transformasi digital merupakan strategi yang tepat untuk dilakukan saat ini. Atribut pertama adalah digital readiness dari rumah sakit. Atribut ini merupakan penilaian kesiapan digitalisasi rumah sakit secara umum berdasarkan kompetensi tim IT internal, kesiapan SDM (dokter, perawat, dll) untuk transformasi digital, infrastruktur penunjang, kondisi finansial rumah sakit, dan kemampuan rumah sakit mengukur efektifitas dari sistem digital yang telah digunakan untuk tujuan evaluasi.
Atribut kedua adalah digital urgency, yaitu besarnya kebutuhan rumah sakit untuk bertransformasi secara digital yang dinilai berdasarkan kesiapan manajemen untuk berkomitmen terhadap proses transformasi digital, kebutuhan integrasi rumah sakit dengan rumah sakit lain, lembaga lain, atau layanan kesehatan lain, dan penerimaan segmen pasien yang dilayani terhadap teknologi digital (dari sisi daya beli, pemahaman, dan kepercayaan terhadap teknologi).
Kuadran Penilaian Kesiapan
Terdapat empat kuadran yang dapat memberikan gambaran terkait posisi suatu rumah sakit dibandingkan dengan rumah sakit lainnya dari segi digital readiness & urgency.
Kuadran pertama. Urgensi digitalisasi tinggi dan rumah sakit siap bertransformasi – Segera realisasikan rencana transformasi digital, dalam melakukan transformasi digital. Penting untuk menentukan strategi arsitektur digital dan implementasi yang disesuaikan dengan visi organisasi masa depan.
Partnership dengan Digital Solution Provider yang tepat menjadi pilihan yang perlu dipertimbangkan jika rumah sakit ingin mengoptimalkan waktu implementasi, imbal balik investasi dan peningkatan kapabilitas SDM secara cepat.
Kuadran kedua. Urgensi digitalisasi rendah namun rumah sakit sudah siap bertransformasi. Rumah sakit dapat melakukan quick-wins penerapan teknologi pada segmen layanan/lokasi tertentu atau segmen pasien tertentu untuk mempelajari lebih baik peluang dan tantangan yang ada saat ini maupun di masa depan.
Kuadran ketiga. Urgensi digitalisasi tinggi namun rumah sakit belum siap bertransformasi. Manajemen rumah sakit perlu melakukan penilaian strength/gap dan mendefenisikan strategi serta roadmap transformasi. Rumah sakit dapat mengeksplorasi kerjasama dengan Digital Solution Provider untuk menentukan model-model implementasi yang sesuai dengan kondisi atau keterbatasan organisasi.
Kuadran keempat. Urgensi digitalisasi rendah dan rumah sakit belum siap untuk bertransformasi. Rumah sakit harus terus melakukan pemantauan perubahan kebutuhan segmen yang dilayani karena permintaan dan kebutuhan pasien dapat berubah dengan sangat cepat
Ilustrasi 3: Kuadran Penilaian Kesiapan Transformasi Digital
Melalui riset ini, dapat disimpulkan bahwa teknolgi memiliki peranan yang penting untuk industri kesehatan di masa kini dan masa yang akan datang dari segi kedokteran, pengobatan, layanan kesehatan dan lain sebagainya.
Secara garis besar, rumah sakit khususnya di kota besar dari kelas A dan B sudah mulai mengembangan transformasi digital dalam pengoperasian sehari – hari. Namun, masih banyak pengembangan yang perlu ditilik kembali agar dapat transformasi digital dapat dilaksanakan secara berkesinambungan dan menyeluruh, seperti koneksi internet yang belum stabil (terlebih di luar kota besar), biaya yang besar pada awal pengaplikasian, lama waktu training, dan pengkondisian terhadap seluruh manajemen.
Perlahan namun pasti, dengan adanya komitmen dan sinergi yang kuat dari berbagai pihak, kemajuan yang siginifikan pada industri Kesehatan Indonesia akan terjadi. Karena sejatinya, kemajuan digital diperlukan untuk dapat meningkatkan kinerja manusia karena bisa memberikan keakuratan yang lebih pasti dan penyelesaian yang lebih efektif dan efisien.

Related