Communication

Perempuan Paling Rawan Kena Investasi Bodong

Deretan kasus investasi bodong di Indonesia kerap menjerat kalangan perempuan, khususnya ibu rumah tangga. Akhir Maret lalu, terjadi  kasus penipuan investasi berkedok arisan online di Trenggalek, Jawa Timur.

Modus arisan online kerap terjadi karena budaya arisan sudah dikenal di kalangan ibu-ibu di Indonesia. Selain itu, perekrutan anggotanya leluasa, serta sistem penyetoran dananya mudah dipahami. Korban hanya diminta menyetorkan sejumlah dana setiap bulannya. Mereka dijanjikan imbal hasil yang menggiurkan dalam waktu singkat. Ambil contoh kasus penipuan investasi di Trenggalek. Para ibu-ibu ditawarkan imbal hasil tinggi hingga 20%, ditambah dengan sikap agresif oknum dalam memasarkan produknya, sehingga para korban terpengaruh pada investasi bodong ini.

Panjangnya daftar kasus investasi bodong yang menimpa perempuan merupakan risiko yang harus disikapi secara serius baik oleh pelaku industri maupun pemerintah. Deretan kasus yang berulang kali terjadi menandakan adanya minat perempuan untuk berinvestasi namun terhalangi oleh keterbatasan pengetahuan dan informasi yang cukup dalam mengenal mana skema investasi yang benar dan salah.

Putri Madarina, perencana keuangan dan investasi syariah, mendorong perempuan Indonesia agar melek investasi supaya terhindar dari penipuan. “Umumnya, jika suatu perusahaan sudah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan  (OJK) maka kita bisa meyakini legalitas bisnisnya,” tuturnya.

Jika dikelola melalui instrumen yang tepat, investasi dapat menghasilkan keuntungan yang menunjang kesejahteraan keluarga. Pada dasarnya, setiap perempuan memiliki kemampuan untuk kritis dan cermat dalam mempelajari investasi.

“Pertama-tama harus paham dulu bahwa setiap investasi memiliki risiko, dan risiko tersebut bisa dapat dipilih dan dikelola sesuai kemampuan kita. Selain itu, jangan mudah tergiur dengan keuntungan investasi yang tinggi. Pastikan Anda mengetahui sistem dan perhitungan keuntungan tersebut. Penjual investasi yang benar harus menyampaikan hal ini,” terangnya.

Bagi para perempuan yang terlanjur menjadi korban investasi bodong, Ia mengingatkan untuk tetap rasional dalam menyikapi kerugian, dan berkonsultasi pada ahli keuangan atau financial planner yang berlisensi dan terpercaya.

“Ibu-ibu korban penipuan tersebut rata-rata mengenal investasi bodong lewat Facebook dan WhatsApp saja tanpa bertatap muka dengan pelaku. Melihat mereka yang sudah cukup aktif dengan sosial media, peluang ini bisa dimanfaatkan bagi para praktisi untuk melakukan edukasi di sosial media lewat penyampaian yang mudah dipahami,” tutupnya.

Editor: Sigit Kurniawan

MARKETEERS X

Most Popular

ALIVE Indonesia







To Top