Career

Perjalanan Karier Marlin Siahaan, Perempuan di Balik Waze Indonesia

Photo Credits: Marketeers

Menjadi Country Manager untuk salah satu anak usaha Google, sebuah perusahaan teknologi global yang ‘mungkin’ menjadi impian banyak orang jelas menjadi kebanggaan tersendiri.

Bukan perkara mudah, posisi yang ditempati Marlin R. Siahaan sebagai Country Manager Waze Indonesia berangkat dari jerih payah yang ia lakukan selama merintis karier.

Memutar waktu ke belakang, ada satu benang merah menarik yang bisa ditarik dari perjalanan karier Marlin. Pengalaman menjelajahi dunia media memperkaya Marlin dengan deretan pembelajaran yang terus ia kembangkan dari waktu ke watu. Alhasil, perempuan yang selalu tampil ceria dan gemar bicara ini mampu menyihir deretan perusahaan ternama untuk menariknya.

Mengawali karier sedari bangku kuliah sebagai penyiar di Mustang FM, Marlin kemudian bergabung dengan stasiun televisi anak muda pada masanya, MTV. Dari media tradisional, Marlin melirik media baru yang ia nilai potensial. Marlin pun bergabung dengan perusahaan teknologi multinasional, Yahoo.

Bekal dunia digital yang ia peroleh dari Yahoo berhasil menarik Telkomsel untuk mengangkutnya pindah menjadi General Manager Digital Advertising. Bukan perkara mudah, jatuh bangun dirasakan Marlin di perusahaan plat merah tersebut. Apalagi, Marlin menjadi salah satu agen perubahan dalam proses transformasi Telkomsel dari perusahaan konvensional menjadi perusahaan digital.

Tiga setengah tahun bergabung dengan Telkomsel, Marlin mendapat tawaran menarik untuk bergabung dengan Google Indonesia. Kini, Marlin dipercaya memimpin perusahaan navigasi hasil akuisisi Google, Waze Indonesia.

Bersama Annisa Bella dari Marketeers, Marlin berbagi pengalaman suka-duka merintis karier di media tradisional hingga berkutat dengan media baru.

Momen Terbaik dalam Karier

Jika ada istilah yang mengatakan, “perempuan tidak bisa membaca peta,” zaman sekarang sudah berbeda. Teknologi memungkinkan perempuan untuk bisa membaca peta, apalagi Country Manager Waze adalah perempuan.

Bergabung dengan Google untuk membesarkan Waze menjadi salah satu momen terbaik dalam karier Marlin. “So proud  that woman can read map and lead the business of the country too,” ujar Marlin kepada Marketeers.

Namun, di balik pencapaian ini, masih ada banyak momen berharga yang dialami Marlin sepanjang perjalanan karier. Antara lain, kemampuan Marlin untuk membuktikan kesuksesan kepada mantan atasan atau orang-orang yang pernah meremehkan dirinya. Prinsip hidup Marlin, ketika berada di titik terendah dalam hidup, jangan pernah meninggalkan situasi tersebut.

Selama perjalanan karier, ia mengaku selalu mendapat atasan yang cukup keras. Tak jarang, ada momentum di mana ia pernah merasa diremehkan. Bahkan, Marlin pernah mendapat surat peringatan dan terancam dipecat.

“Sedih, marah, kecewa, semua emosi bercampur. Bagaimana tidak, ada perasaan tidak adil di sana. Ibaratnya, sudah susah payah bekerja namun bukan penghargaan yang diperoleh, melainkan surat peringatan,” kisah Marlin.

Situasi itu terjadi lantaran penjualan yang tidak memenuhi target perusahaan. Tunggu dulu, bukan berarti Marlin main-main. Klien-klien Marlin saat itu adalah pemain lokal yang notabane masih tv mindset dan memang butuh waktu untuk mengedukasi mereka. Tahun pertama merupakan tahap edukasi yang kita lakukan kepada target pasar. Sementara, tahun kedua merupakan waktu untuk mulai menuai penjualan. Grafik ini akan terus meningkat di tahun ketiga.

“Saat itu, saya masih berada di tahap awal. Saya pun mencoba meyakinkan atasan dengan menjelaskan siklus tersebut. Saya percaya ketika sudah pada timing-nya, maka produk tersebut akan laku. Saya pun minta diberikan waktu satu tahun untuk membuktikan. Alhasil, saya sukses meraup Rp 5 miliar dari klien untuk perusahaan. Tak perlu waktu lama, saya memutuskan untuk pindah ke Telkomsel yang kala itu merekrut saya sebagai General Manager Digital Advertising,” ungkap Marlin.

Usai membuktikan pencapaian tersebut, atasan Marlin pun sempat berupaya mempertahankan dirinya di perusahaan. Namun, ia merasa ini waktu yang tepat untuk pindah dan mencari pengalaman baru.

“Toh, saya sudah berhasil membuktikan kemampuan menghadapi tantangan tersebut. Lucunya, mantan atasan saya justru menjadi orang yang merekomendasikan saya untuk bergabung dengan perusahaan-perusahaan yang kemudian saya tempati,” ujar Marlin.

Pembelajaran Besar dalam Karier

Bergulat dengan pekerjaan yang bersinggungan dengan revenue centric jelas bukan perkara mudah. Menelan pil pahit sudah jadi makanan sehari-hari. Pengalaman di MTV cukup berkesan meninggalkan cerita. Ketika berhasil menjaring klien untuk mensponsori program MTV VJ Hunt, tiba-tiba saja klien tersebut merasa tidak puas dan ingin membatalkan kontrak.

“Jika saya tak mau tahu, saya bisa bilang itu bukan salah saya, melainkan tim produksi. Memang, bagian sales and marketing kerap tak sejalan dengan tim produksi, ibarat minyak dan air. Tim produksi memiliki idealisme, sementara sales and marketing harus mengikuti keinginan klien,” kisah Marlin.

Kontrak tersebut batal dua minggu sebelum program dimulai. Atasan Marlin tak mau ambil pusing. Dengan enteng ia meminta pengganti klien tersebut. “Ingin nangis darah rasanya. Bagaimana bisa mencari klien dengan bujet sebesar itu hanya dalam waktu dua minggu?” tanya Marlin.

Bersyukur, Marlin dan tim berhasil mencari pengganti klien tersebut. Bahkan, klien baru itu merupakan kompetitor dari klien sebelumnya. Hal ini menjadi shocked therapy bagi klien lama dan mengajarkan para pengiklan agar tidak sembarangan mengambil langkah. Nyatanya, ada kompetitor lain juga ingin menempati posisi tersebut.

Cerita di Telkomsel tak kalah menarik. Sebagai salah satu agen perubahan dalam proses transformasi Telkomsel menjadi perusahaan digital, ada banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi. Apalagi, Marlin harus berhadapan dengan banyak talent yang sudah puluhan tahun bekerja di sana. Ilmu digital yang diperoleh dari Yahoo, ia coba menerapkannya di Telkomsel.

Tentu, bukan hal mudah untuk mewujudkan itu semua. “Saya harus berhadapan dengan berbagai sumber daya manusia yang terbilang kolot dan tidak mau berubah. Mayoritas dari mereka tak mau keluar dari zona nyaman. Ada gap yang besar di sana, antara Collonial VS Millennial. Belum lagi, persoalan birokrasi di perusahaan pelat merah yang bukan lagi menjadi rahasia umum,” terang Marlin.

Bersama agent of change lain, Marlin bersinergi mematahkan budaya kerja lama dan membawa rejuvenasi. Marlin memilih membangun suasana kerja berbasis solution and result oriented dibandingkan membuat birokrasi yang rumit.

“Kami mencoba mencairkan suasana dan menghilangkan penghalang dengan membiasakan junior untuk berbicara langsung kepada para pemimpin. People skill saya peroleh di sana. Bagaimana berkoneksi dengan orang-orang lama dan mengubah mindset mereka dengan cara baru. Such a beautiful process,” tutup Marlin.

Editor: Sigit Kurniawan








To Top