Finance

Pertumbuhan Ekonomi Asia Tenggara Diproyeksi Turun Jadi 4,5%

Photo Credits: 123rf

Setelah mencetak pertumbuhan ekonomi 5,1% pada tahun 2018, pertumbuhan ekonomi wilayah Asia Tenggara diproyeksi menurun menjadi 4,5% tahun ini. Economic Update: South-East Asia terbaru dari Institute of Chartered Accountants in England and Wales (ICAEW) menganalisis, hal ini merupakan dampak dari pembatasan perdagangan dan tarif antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS).

Secara umum pertumbuhan ekonomi semester pertama (H1) 2019 di seluruh wilayah Asia Tenggara melambat (4%) dibandingkan dengan semester kedua 2018 (4,5%).

Selain merupakan dampak dari perang dagang AS-Tiongkok, hal ini dilihat ICAEW lantaran melemahnya permintaan domestik Tiongkok, dan kecenderungan menurunnya siklus industri elektronik global.

Kebijakan makro yang akomodatif, ditambah dengan desakan aktivitas domestik, diperkirakan dapat menahan prospek perdagangan yang lemah, kendati hal ini akan bervariasi di berbagai negara.

“Di tengah tantangan global dan ketidakpastian atas perbincangan perdagangan AS-Tiongkok yang sedang terjadi, kami perkirakan akan terjadi kemerosotan prospek ekonomi lebih lebih lanjut di seluruh wilayah Asia Tenggara, terutama bagi negara dengan ekonomi yang lebih bergantung pada perdagangan,” Sian Fenner, ICAEW Economic Advisor and Oxford Economics Lead Asia Economist di Jakarta, Senin (23/09/2019).

Momentum ekspor yang melambat berdampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi negara yang bergantung pada perdagangan, seperti Singapura, Thailand, dan Filipina.

Sementara, Malaysia dan Vietnam telah mengungguli wilayah tersebut, mencerminkan perlambatan pertumbuhan ekspor yang lebih rendah dan permintaan domestik yang kuat.

Secara keseluruhan, pertumbuhan PDB wilayah Asia Tenggara diperkirakan akan moderat hingga 4,5% di tahun ini. Nilai ini diprediksi akan tetap stabil pada angka yang sama hingga tahun 2020.

Editor: Sigit Kurniawan

MARKETEERS X