Resource & Energy

PLN: Konsumsi Listrik Bisnis dan Industri Turun, Rumah Tangga Naik

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSSB) semenjak 10 April hingga 23 April mendatang. Kebijakan dikeluarkan untuk memotong mata rantai penyebaran COVID-19.

Adanya kebijakan ini berpengaruh besar pada konsumsi listrik di kawasan DKI Jakarta. Menurut Ikhsan Asaad selaku General Manager PLN Distribusi Jakarta Raya, ada beberapa industri yang konsumsinya turun dan ada pula yang justru naik.

“Mayoritas konsumsi listrik di Jakarta berasal dari para pelanggan bisnis. Saat ini, untuk pelanggan bisnis banyak dari mereka yang konsumsi listriknya mengalami penurunan,” tutur Ikhsan di acara Industry Roundtable: Surviving The Covid-19, Preparing The Post untuk sektor Recources, Mining, and Energy Resources yang diselenggarakan oleh Jakarta CMO Club beserta Marketeers, Selasa (14/4/2020).

Ia menambahkan, untuk pusat perbelanjaan konsumsi listrik menurun hingga 9,43%, pelaku hotel juga turun 17,38%, industri turun 18,48%, dan untuk perkantoran penurunannya mencapai 38,96%. Sebaliknya, kondisi ini justru meningkatkan tingkat konsumsi rumah tangga. Sebagai contoh, konsumsi listrik di apartemen meningkat 9,38%, sedangkan perumahan mencapai 4%. Selain itu, ada juga peningkatan konsumsi listrik di beberapa lokasi seperti rumah sakit dan tempat pelayanan publik lainnya.

“Ini merupakan dampak dari kebijakan work from home dan juga PSSB yang diterapkan oleh perusahaan dan pemerintah provinsi,” ujarnya.

PLN sudah menyiapkan beberapa strategi dalam mengatasi permasalahan dan situasi saat ini. Semisal, menjamin pasokan listrik untuk beberapa lokasi rumah sakit di Jakarta, khususnya rumah sakit yang menjadi rujukan pemerintah dan untuk pelaksanaan rapid test.

Untuk pelaku rumah tangga, PLN menyediakan beberapa program. Seperti subsidi listrik gratis untuk perumahan dengan daya listrik 450 Va dan diskon 50% untuk rumah dengan daya listrik 900 Va.

MARKETEERS X








To Top