Government & Public Services

Proporsi Investasi Uni Eropa ke Indonesia Hanya Mencapai 0,5%

Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) mengadakan sebuah Pertemuan Komunitas Bisnis Indonesia dengan Eropa pada Kamis (26/6) 2014 di Jakarta. Kegiatan ini merupakan salah satu program Indonesia’s Civil Society in Trade and Investment (ACTIVE), sebuah progam kerjasama antara DPN APINDO dengan Uni Eropa.

Bersama dengan Indonesian Netherlands Associations (INA) dan EuroCharm, APINDO melibatkan komunitas bisnis Indonesia dan Eropa untuk melakukan kerjasama, terutama untuk sektor swasta. Kerjasama ini dilaksanakan melalui dialog aktif dan diskusi terkait isu terkini tentang hubungan perekonomian antara Indonesia dan Uni Eropa, khususnya dalam menghadapi Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (Comprehensive Economic Partnership Agreement/CEPA).

Sofjan mengungkapkan bahwa Indonesia dan Uni Eropa harus saling bekerjasama dalam rangka meningkatkan daya saing Indonesia dan Penanaman Modal Asing (PMA). Indonesia memiliki skala ekonomi terbesar di ASEAN dengan 40% dari GDP (sekitar US$ 878 miliar) dengan jumlah populasi mencapai 246,9 juta penduduk. Sementara itu, Uni Eropa merupakan penggerak investasi terbesar di dunia. Meskipun demikian, Indonesia hanya menerima 0,5% total PMA Uni Eopa ke seluruh dunia atau 13,5% dari PMA UE di ASEAN. “Investasi langsung melalui perusahaan-perusahaan Uni Eropa memberi manfaat untuk infrastruktur, pekerjaan umum, dan Kerjasama Pemerintah Swasta (Public Private Partnership) guna meningkatkan perekonomian Indonesia untuk menghadapi dan bersaing di MEA,” papar Sofjan.

Lebih lanjut, Wakil Ketua Umum APINDO, Chris Kanter menjelaskan jika Uni Eropa merupakan mitra perdagangan strategis bagi Indonesia karena Uni Eropa menjadi negara tujuan ketiga terbesar untuk ekspor dan keempat terbesar untuk impor. “Sebaliknya, Indonesia juga merupakan negara yang potensial bagi Uni Eropa karena Indonesia memiliki pasar konsumen yang besar. Oleh karenanya, Indonesia dan Uni Eropa memiliki hubungan dagang positif yang dapat meningkatkan perdagangan kedua belah pihak,” terang Chris.

Ia menambahkan, dalam waktu dekat Indonesia akan memiliki pemerintahan yang baru sehingga besar kemungkinan adanya perubahan dalam beragam aspek. Sektor swasta perlu memastikan jika kondisi perekonomian nasional tetap stabil bahkan lebih meningkat di bawah pemerintahan baru nanti. Ia mengharapkan pertemuan ini mampu menghasilkan rekomendasi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga enam persen atau lebih pada tahun mendatang.

Direktur INA, Elmar Bouma mengatakan pertemuan tersebut merupakan ajang yang baik untuk menjembatani dan menemukan solusi dari berbagai hambatan yang mungkin dihadapi kedua belah pihak, baik dari komunitas bisnis Indonesia maupun Eropa yang berada di Indonesia. Pertemuan ini menjadi proses sinkronisasi antara komitmen APINDO dan perusahaan Eropa terkait isu ekonomi.

“Beberapa isu akan dibahas dalam pertemuan ini, khususnya yang terkait dengan daya saing diantaranya isu-isu terkait negosiasi CEPA antara Indonesia dan Uni Eropa, termasuk implementasi Undang-Undang Industri dan Perdagangan Indonesia,” papar Maya Safira, Project Manager ACTIVE APINDO-Uni Eropa.

Pertemuan ini merupakan kerjasama antara DPN APINDO dengan Uni Eropa melalui program Advancing Indonesia’s Civil Society in Trade and Investment (ACTIVE). Program ini dimaksud untuk menguatkan peran organisasi masyarakat sipil dalam meningkatkan kesiapan Indonesia dalam negosiasi CEPA serta meningkatkan pemahaman dunia usaha Indonesia tentang CEPA dalam strategi integrasi global.








To Top