Technology

Sekitar 70% Perusahaan Gagal Lakukan Transformasi Digital

Ilustrasi: Marketeers

Transformasi digital tengah digandrungi oleh para pemilik merek. Banyak dari mereka yang terdorong untuk melakukan transformasi karena memang lanskap dunia pemasaran telah bergeser. Sayangnya, filosofi “jalani saja dulu” yang cukup tertanam di benak para pengusaha menjebak mereka pada proses transformasi yang kurang tepat. Bahkan, Forbes beberapa bulan lalu mengeluarkan laporannya bahwa 70% transformasi digital yang dilakukan oleh perusahaan terbilang gagal.

Banyak dari pengusaha tahu bahwa mereka harus bertransformasi, menciptakan proses dan solusi digital. Namun sayangnya, tidak sedikit dari para pengusaha tersebut yang tidak paham betul bagaimana cara mewujudkan transformasi digital yang dimaksud.

“Transformasi digital yang dilakukan perusahaan saat ini cukup bagus, namun apakah perusahaan benar-benar melakukan digital transformation atau sekadar manually computerised yang artinya mereka hanya memindahkan pola pikir manual ke platform digital. Mereka bukan membangun kultur baru yang dibantu oleh teknologi otomasi,” jelas Mohamad Fachri, Chief Executive Officer PT Pitjarus Teknologi.

Fachri banyak melihat perusahaan yang mengaku telah melakukan transformasi digital namun ternyata hanya memindahkan medium ke platform digital. Mereka masih harus menginput data secara manual layaknya memindahkan pencatatan mereka dari kertas ke computer. Tidak banyak dari perusahaan yang membangun sistem secara otomasi hingga mengubah kultur perusahaan.

Pitjarus sendiri merupakan perusahaan software as a service yang fokus pada industri ritel, khususnya consumer goods dan farmasi. Di dalam layanannya, Pitjarus menyediakan jasa konsultasi hingga membangun ekosistem digital di dalam perusahaan, khususnya di sektor sales, marketing, dan operation.

Dalam melakukan digital transformation, Pitjarus berpatokan pada tiga aspek utama, yakni efisiensi untuk meningkatkan produktivitas dari sumber daya manusia, data yang reliable denga akurasi tinggi, dan platform yang pro-active. Dengan teknologi yang mereka miliki, sistem dari Pitjarus akan membaca persoalan beserta informasi yang relevan sebagai bahan pengambilan keputusan dari stakeholder yang bertanggung jawab atas hal tersebut.

“Sejak tahun 2012, kami menawarkan advanced retail IT solution. Kini, kami memiliki 21 group client dengan total pengguna lebih dari 26.000 pengguna. Sistem kami juga telah tersemat di 1,37 juta toko di seluruh Indonesia dengan 3 miliar data yang kami manage,” lanjut Fachri.

Salah satu teknologi unggulan Pitjarus adalah image recognition (JarVist) sebagai visibility tracker, JarDist sebagai distribution management system and sales force automation, JarBig (Business Intelligence), dan JarGist sebagai route and fleet management. Dengan teknologi ini, para pemasar dapat melakukan tracking terhadap produk mereka di setiap toko hanya melalui foto. “Selain mengetahui out of stock product dan display compliance, sistem yang berbasis pada artificial intelligence (AI) ini dapat membaca kebutuhan pengiriman hingga tren yang terjadi di setiap cabang,” lanjut Fachri.

Contohnya, Sari Roti, Mondelez, Garudafood, Nestle, Unilever, dan 16 grup klien lainnya. Selain menghemat waktu, sistem akan menyediakan transparansi yang dapat menghindarkan fraud. Dari foto, sistem akan membaca dan mengelola data sebagai bahan action plan selanjutnya. Akurasi yang ditawarkan sistem ini pun mencapai 97%. Bahkan, ketika terjadi masalah, secara proaktif sistem akan memberikan notifikasi kepada pemangku kepentingan terkait pengambilan tindakan

“Meski sistem kami telah diperkuat dengan teknologi robot, sentuhan manusia tetap harus ada. Tentu dengan jumlah yang lebih sedikit. Pasalnya. Sentuhan manusia di era digital sekarang ini sangat penting. Namun, serahkan perhitungan yang kompleks terhadap sesuatu hal ke komputer,” jelas pria lulusan Universitas Indonesia ini.

Kini, klien-klien Pitjarus telah memiliki ekosistem dan kultur digital yang dapat mendukung proses distribusi dari produk-produk mereka. Bahkan, ekosistem ini dapat membaca mana cabang dengan penjualan yang baik mana yang harus dikurangi stoknya.

Dengan sistem ini, angka retur pun bisa ditekan. Bahkan, potensi penjualan juga bisa meningkat berkat forecasting yang lebih terukur. Dari sini, kepemilikan data pun kian penting. Pasalnya, ketika perusahaan sudah melakukan transformasi digital, kepemilikan data itu bukan lagi nice to have tetapi sudah menjadi kebutuhan dasar di dalam kultur perusahaan.

 

MARKETEERS X








To Top