Consumer Goods

Seperti Apa Rasanya Menjadi Barista Starbucks?

Profesi barista bisa dibilang tengah naik daun. Bukan hanya karena industri kedai kopi modern tengah menjamur di kota-kota besar Tanah Air, melainkan juga profesi ini mendapat atensi besar dari kawula muda. Pertanyaannya, apakah profesi barista menjanjikan?

Bicara mengenai profesi, tentu ada kaitannya dengan pasokan lapangan pekerjaan. Meskipun disebut bisnis baru, kedai kopi modern telah menyerap banyak barista sebagai tenaga profesional.

Misalnya, raksasa kedai kopi Starbucks yang hadir sejak tahun 2002 di Indonesia ini telah memperkerjakan sekitar 3.500 orang, setidaknya hingga saat ini. Yang mana, 70%-nya adalah para frontliner kedai kopi itu, alias barista.

Anastasia Dwiyani, GM Human Resources Starbucks Indonesia mengatakan, tenaga kerja terbesar Starbucks adalah para barista yang menjadi garda terdepan perusahaan berhadapan dengan pelanggan. Mayoritas dari barista pun adalah kalangan anak kuliah dan fresh graduate.

“Rata-rata usia barista kami yaitu 22-24 tahun. Namun, ada juga 18 tahun dan memilih menjadi part time jobs,” ucap Anastasia saat ditemui Marketeers beberapa waktu lalu.

Anastasia mengaku, 30% dari barista Starbucks masih duduk di bangku kuliah. Mereka melakukan part time jobs di kedai itu selama empat jam per hari. Part time jobs pun disesuaikan dengan jadwal kuliah anak tersebut, serta sejauh mana rumah/kampus mereka dengan lokasi gerai.

“Upah yang kami berikan dimanfaatkan mereka untuk membayar biaya kuliah dan menambah uang saku,” tuturnya.

Namun, Anstasia mengatakan, tak sembarangan pihaknya merekrut barista. Meskipun teknik menjadi barista bisa dipelajari, namun yang terpenting adalah mencari kandidat yang ingin berkarier untuk melayani orang.

Ia menjelaskan, Starbucks adalah perusahaan yang berhubungan dengan banyak orang. Sehingga, pihaknya tidak mengajarkan barista untuk tersenyum. Namun, ia mencari barista yang memang bisa tersenyum secara alamiah.

“Kami ingin barista kami memiliki pola pikir people business, serving coffee. Bukan coffee business, serving people,” tegasnya.

Dengan begitu, lanjut Anastasia, Starbucks mampu memberikan experience berbeda, sebab setiap barista yang direkrut memiliki keunikan masing-masing. Mereka adalah kumpulan manusia independen yang memiliki visi yang sama untuk menciptakan experience bagi pelanggan.

Editor: Sigit Kurniawan








To Top