Lifestyle & Entertainment

Singapura-Indonesia Tingkatkan Kualitas Pendidikan Anak Usia Dini di Jawa Barat

Singapore International Foundation (SIF) bekerja sama dengan Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI) cabang Jawa Barat dan Singapore University of Social Sciences (SUSS), meluncurkan program pembentukan kapasitas diri di Bandung. Proyek Early Childhood Education (ECE) ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pendidik anak usia dini di provinsi Jawa Barat.

Selama dua tahun ke depan, tim Singapore International Volunteers (SIVs) yang terdiri dari anggota fakultas program ECE di SUSS akan bekerja sama dengan spesialis ECE Indonesia yang merupakan anggota terdaftar IGTKI.

SIV akan melatih anggota mereka di Indonesia dengan cara berbagi pengetahuan, keterampilan, dan praktik terbaik di bidang ini. Dengan cara Training on Trainers (ToT), 50 pelatih utama akan dilengkapi dengan keterampilan pedagogi dan penilaian kualitas agar memungkinkan mereka untuk berbagi pengetahuan dengan 250 rekan mereka di sektor ini.

“SIF percaya, ketika orang-orang dari budaya berbeda dapat berkolaborasi makan akan terjadi perubahan positif yang tidak terbatas. Upaya bersama antara Singapura dan Indonesia ini sangat penting karena kedua negara telah mengisyaratkan pentingnya pendidikan anak usia dini agar dapat diakses oleh seluruh kalangan masyarakat,” ungkap Jaryll Chan, Division Director Programmes SIF melalui keterangan resmi kepada Marketeers di Bandung (05/11/2019).

Proyek ECE diharapkan dapat memberikan dampak positif pada lebih dari sembilan ribu anggota masyarakat Indonesia selama dua tahun kedepan, termasuk para siswa, guru, orang tua dan wali.

Proyek ini memiliki dua tujuan. Pertama, untuk membekali para praktisi ECE di Jawa Barat dengan keterampilan yang telah diperkuat dalam layanan ECE. Kedua, meningkatkan kapasitas pelatihan praktisi ECE untuk memastikan keberlanjutan proyek secara jangka panjang.

Keberhasilan proyek ini dapat dilihat melalui tiga komponen, meliputi pelatihan untuk memfasilitasi pengembangan diri para praktisi profesional ECE; ToT untuk mewujudkan pelatihan yang tersalurkan, serta keberlanjutan proyek; pengembangan dan implementasi sumber daya untuk praktisi ECE di luar program dapat dimanfaatkan demi memastikan keberlanjutan proyek.

Komponen-komponen ini juga akan memfasilitasi hubungan lintas negara dan berbagi pengetahuan secara praktik di sektor ECE.

Setelah proyek ini berakhir, para peserta diharapkan sudah memahami dan melaksanakan strategi pedagogis mendasar, lalu meningkatkan layanan ECE mereka. Kerangka kerja penilaian kualitas akan diterapkan untuk menilai kompetensi peserta pelatihan dalam menerapkan pembelajaran mereka.

“Kami bangga dengan SIF dan SUSS yang berupaya meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini di negara kami. Kolaborasi ini akan memungkinkan kami untuk menciptakan dunia yang lebih baik untuk anak-anak kami,” tutur Renni Kusnaeni, Ketua IGTKI.








To Top