Srimulat: Merek Legendaris yang Ingin Rejuvenasi

profile photo reporter Marketeers Editor
MarketeersEditor
07 Maret 2011
marketeers article
 
TAK ADA grup lawak Indonesia selegendaris Srimulat. Kelompok komedian ini ibarat Koes Ploes di sejarah musik Indonesia.“Srimulat adalah merek yang kuat,” kata Eko Saputro, pemimpin Srimulat sekarang sekaligus penerus Srimulat secara genetika—putra Teguh Slamet Rahardjo dan Djudjuk Djuwariyah, generasi pertama Srimulat.
Saya sepakat dengan pernyataan mas Koko—panggilan akrab Eko Saputro— yang disampaikan di Obrolan Langsat (Obsat), Kamis malam, 3 Maret 2011. Obsat kali ini mengusung tema “30 tahun Srimulat di TV”. Selain mas Koko, hadir Sony Adi Setyawan penulis buku “Srimulat, Aneh yang Lucu” yang akan diluncurkan pada 8 Maret mendatang. Keduanya bercerita banyak bagaimana merek “Srimulat” terbentuk dan berdinamika sampai sekarang.
Singkat cerita, berdasar buku yang ditulis Sony Set, nama “Srimulat” berasaldari nama pendirinya, yakni Raden Ajeng Srimulat—seorang putri ningrat yang minggat dari tembok kawedanan untuk menjadi seniman. Bersama suaminya Teguh Slamet Raharjo, RA Srimulat mendirikan rombongan kesenian keliling bernama Gema Malam Srimulat. Dengan truk, mereka memasarkan diri dari daerah satu ke daerah lain. Hiburan mereka ternyata laku. Sampai pihak keluarga kerajaan Solo kesengsem pada Srimulat setiap kali manggung di Taman Sriwedari dalam acara Aneka Ria Srimulat.
Bagaikan sebuah produk, banyolan Srimulat dicintai dan ditunggu semua orang. Menurut saya, hal ini disebabkan karena Srimulat mengusung kesederhanaan hidup dan kesahajaan. Tak luput, Srimulat pun menjadi rebutan banyak pihak saat itu, seperti Partai Komunis Indonesia. PKI melalui Lembaga Kesenian Rakyat (LEKRA) saat itu getolmenggalang massa. Mengingatbesarnya penggemar Srimulat—katakanlah pangsa pasarnya sudah besar—Lekra pun membujuk kelompok ini untuk bergabung. Tapi, pihak pemerintah melalui Kodam melindungi grup ini. Pada tahun 1963, situasi di Solo memanas dan seluruh kru Srimulat dievakuasi ke Surabaya.
“Bisa dibayangkan sendiri betapa sulitnya bagiSrimulatsaat itu ketika disuruh melucu di tengah situasi yang memanas demi kesetiaan menghibur penontonnya,” kata Sony.
Merek Kuat dan Legendaris
 
Mas Koko, pemimpin Srimulat sekarang, diapit Ndorokakung (kiri) dan Sony Set (kanan)
Nama Srimulat mulai dikenal secara nasional ketika pertama kalinya muncul di TVRI pada tahun 1981. Penontonnya tidak lagi puluhan maupun ratusan setiap kali tampil. Penontonnya menjadi jutaan pemirsa televisi—apalagi TVRI saat itu masihmelenggang sendiri tanpa pesaing dan jadi hiburan satu-satunya di rumah. Srimulat semakin dekat dengan masyarakat ketika Gepeng menampilkan catch phrase—ungkapan yang diulang-ulang—“Untung Ada Saya.” Ungkapan ini seakan menjadi trademark tidak buat personil Gepeng saja tapi grup Srimulat secara umum.
Acara Srimulat pun menjadi “anak kesayangan” TVRI. Pada tahun 1985, kru Srimulat menjadi 77 orang. Bila ditambah dengan artis Solo, Surabaya, dan kru panggung, jumlahnya 300 orang. Saat itu, muncul personil anyar, seperti Mamiek, Rina, Betet, Bedor, dan Yongky. Sejak ini, Srimulat menjadi tontonan yang ditunggu-tunggu pemirsa.
Kekhasan lawakan Srimulat menjadi satu kekuatan. Selain karena mengusung nuansa Dagelan Mataraman, Ludruk Surabaya, dan sedikit nuansa Betawai (khususnya saat Srimulat mulai merambah Jakarta), kekuatan Srimulat terletak pada penampilan dan tema yang diangkat—sederhana, sahaja, dialog-dialog egaliter, dan sebagainya. Selain itu, Srimulat mampu membangun relasi dekat dengan “pelanggannya” dengan budaya saweran yang menjadi keunikan Srimulat. Lempar rokok, lempar duit, dan sebagainya menjadi isi saweran tersebut. Hal ini menjadikan seolah antara Srimulat dan penonton tidak ada jarak.
Tradisi saweran ini membuat penonton seolah terlibat dalam pertunjukkan. Sebab itu, faktor penonton menjadi penting bagi para pemain Srimulat. Ada yang beranggapan ketika Srimulat manggung di studi televisi tanpa penonton, lawakan Srimulat tidak bisa maksimal. Selainitu, kekuatan lain Srimulat terletak pada karakter para pemainnya. Masing-masing pemain mengusung karakter unik dan konsisten.
Srimulat memasuki masa kejayaannya. Selain karena tidak ada grup lawak lain yang menjadi lawan tangguhnya, Srimulat tampil kuat. Saking kuatnya, Srimulat pun sering dipinang untuk memeriahkan kampanye Diktaktor Soeharto. Tidak hanya itu, Srimulat mampu memengaruhi pengeluaran grasi dari presiden. Kasus Gepeng menjadi contoh unik. Gepeng pernah ditangkap polisi karena kepemilikan senjata api ilegal. Kasus ini diekspos habis oleh media massa. Kasus ini pun sempat mengancam kepopuleran Srimulat. Tapi, aneh bin ajaib, saat mau divonis, Gepeng mendapat surat grasi. Selidik demi selidik, hal ini dikarenakan oleh permintaan Arseto—cucu diktaktor Soeharto dari Sigit— yang menginginkan Gepeng bisa hadir di pesta ulang tahunnya.
Kejayaan Srimulat mulai redup terutama ketika mulai bermunculan stasiun-stasiun televisi yang menawarkan program-program hiburan yang tak kalah menarik. Satu per satu personel Srimulat mulai rontok. Pada tahun 1989, Teguh membubarkan Srimulat. Dua tahun sebelum dibubarkan, serial Srimulat di TVRI sempat dihentikan. Lama berselang, kerinduan para personel untuk berkumpul kembali membuncah. Pada tahun 1995, Gogon mengusulkan reuni Srimulat. Pelaksanaan reuni Srimulat terbilang sukses dan tetap menyedot banyak penonton. Stasiun Indosiar pun meminangnya dan Srimulat tampil kembali di layar perak pada tahun 1995-2003. Pada tahun 2004, Srimulat kembali vakum. Pada tahun 2006, Srimulat kembali mendapat tawaran manggung di Indosiar dalam 36 episode.
Upaya Rejuvenasi
Nama “Srimulat” sudah lama dipatenkan dan sudah ada PT-nya. Impian dari mas Koko selaku pemimpin Srimulat kali ini—tentu bersama “veteran-veteran” Srimulat yang tersisa—Srimulat bisa hadir kembali di dunia sekarang. Tentu saja, penonton dan peminatnya jauh berbeda dengan generasi sebelumnya. Sebab itu, Srimulat menggelar program Srimulat Next Generation dengan menjaring para personel anyar—termasuk kalangan muda—untuk menjalani audisi. Srimulat Next Generation ini direncanakan akan tampil pada April mendatang.
Menurut saya, ini merupakan langkah berani Srimulat untuk hadir lagi dengan darah-darah segarnya. Ketika saya tanya apakah Srimulat tidak takut kehilangan roh-nya, Koko dengan nada optimistis mengatakan, “Srimulat tidak bakal kehilangan rohnya.”
Pada tahun ini juga, Srimulat akan hadir dalam bentuk Srimulat Multimedia, yang berupa Srimulat Cyber, Srimulat Android, dan Srimulat Content Provider. PT XL Axiata pun mulai menggandeng Srimulat multimedia ini dan mensponsori terbitnya trilogi buku Srimulattersebut. Upaya memperkenalkan Srimulat dan sejarahnya ini patut didukung. Apalagi, cerita-cerita di balik panggung—termasuk cerita para personelnya—bisa membuat kita lebih mengenal dan mencintai Srimulat. Misalnya, RA Srimulat diduga kuat menjadi anggota intelijen saat itu. Belum lagi Triman, Bendot, dan Tessy yang berlatarkan militer. Tessy yang tampil banci ternyata adalah mantan KKO Angkatan Laut dan pernah berjuang untuk pembebasan Irian Barat tahun 1961-1963. Ditambah dengan suka duka masing-masing personel dalam berjuang untuk hidup.
Menurut saya, tantangan yang akan dihadapi Srimulat tidak mudah. Apalagi, saat ini, Srimulat akan bersaing dengan banyak grup komedi dengan mengusung lawakan khas anak muda kontemporer. Tentu saja, gaya lawakan pada masa keemasan yang lalu tidak otomatis cocok bagi penonton generasi sekarang ini. Selain itu, tak mudah juga mempertemukan sisa-sisa generasi lawas Srimulat dengan generasi anyarnya nanti.
“Kami ingin melahirkan Srimulat baru yang menguatkan budaya lokal dan wacana nasional,” pungkas Koko.
*Ilustrasi pertama diambil dari http://unclebowl.wordpress.com

Related