Technology

Tekan Fraud di Industri Keuangan, Nodeflux Kenalkan Teknologi Face Recognition

Teknologi artificial intellegence (AI) sudah mulai diaplikasikan, baik oleh pemerintah dan terutama oleh korporasi. Di dunia usaha, sebagian industri mulai melihat penerapan AI bisa mendorong kinerja perusahaan menjadi lebih optimal di berbagai sisi.

Industri jasa keuangan menjadi salah satu yang paling aktif mengaplikasikan AI, baik untuk mendukung pelayanan hingga dalam proses alur bisnis. Untuk pelayanan, misalnya, sebagian konsumen sudah tidak asing lagi dengan fitur chatbot yang merupakan pengembangan virtual assistant berbasis AI.

Penerapan AI untuk layanan saja tidak cukup. Saat ini, beberapa perbankan sudah mulai menerapkan sistem buka rekening tanpa perlu datang ke kantor cabang.  Nasabah cukup mengunduh aplikasi, lalu melengkapi syarat-syarat, yakni melakukan swafoto, memfoto kartu indentitas KTP, dan swafoto bersama KTP. Para pemain e-money pun sudah melakukan proses ini jauh sebelumnya.

“Untuk bisa verifikasi data yang sudah diunggah oleh calon nasabah perlu waktu 2-3 hari karena prosesnya masih dilakukan secara manual. Lewat teknologi AI verifikasi bisa dalam hitungan menit saja, sehingga akun nasabah langsung bisa di-approve,” kata Richard Dharmadi, Group Product Manager Nodeflux, hari ini (10/10/2019).

Nodeflux adalah technology startup yang bergerak dalam pengembangan AI untuk menghasilkan berbagai solusi. Startup ini memiliki solusi untuk mempercepat proses verifikasi data nasabah, yakni teknologi Face Recognition untuk mewujudkan otomasi perbankan termutakhir di Indonesia.

“Di bawah payung VisionAIre, kami hadirkan solusi yang menggabungkan vision AI, input,  dan analitik AI dari berbagai riset dan implementasi teknologi Nodeflux selama beberapa tahun. Termasuk mengembangkan teknologi platform terbaru kami, VisionAIre Know-Your-Customer (KYC) untuk meningkatkan otomasi verifikasi perbankan di Indonesia,” tambah Richard.

Menurut riset dari Ernst & Young, proses otomasi verifikasi data atau Electronic Know-Your-Customer (e-KYC) mampu menjawab tantangan utama perbankan, yakni akurasi data dan efisiensi waktu. Berbeda dengan metode tradisional, dalam e-KYC, nasabah hanya perlu memindai dokumen pengenal dan foto untuk memverifikasi keabsahannya secara otomatis. Apalagi, teknologi AI dalam e-KYC ini bisa memangkas proses verifikasi data yang tadinya 18 menit menjadi 1 menit.

Lalu, berapa besar investasi untuk penerapan teknologi ini? Menurut Chief Commercial Officer Nodeflux Ivan Tigana, ukuran besar atau kecil investasi yang dikeluarkan ini tergantung dari sudut pandang perusahaan pada teknologi ini. “Teknologi ini dilihat sebagai vitamin atau peredam rasa sakit. Data menyebutkan bila penerapan teknologi AI bisa membuat perusahan melakukan efisiensi di berbagai sisi,” kata Ivan.

Model AI yang dikembangkan oleh Nodeflux, lanjutnya,  juga mampu meminimalisir campur tangan manusia dengan melatih teknologi analitik Face Recognition melalui biometrik wajah untuk memberikan akurasi yang tepat antara foto di identitas diri dengan swafoto nasabah. “Dengan begitu,  dapat meningkatkan keamanan dan juga mengurangi terjadinya fraud,” tambahnya.

Sebagai perusahaan Vision AI pertama di Indonesia, saat ini teknologi Face Recognition Nodeflux telah mendapatkan pengakuan global. Bersaing dengan lebih dari 90 perusahaan teknologi AI terkemuka di dunia, termasuk Cina dan Rusia, baru-baru ini teknologi Nodeflux  tersebut meraih peringkat ke-25 untuk Face Recognition Vendor Test (FRVT) dari National Institute of Standards and Technology (NIST).








To Top