Technology

Teknologi Jadi Daya Tarik dalam Medical Tourism

SUMBER: 123RF

Sampai saat ini, Amerika Serikat (AS) masih menjadi salah satu negara dengan layanan teknologi kesehatan yang paling maju. Menjadikan negara ini tempat berobat orang dari berbagai penjuru dunia. Namun, biaya  terus meningkat, sehingga orang AS sendiri pun berusaha mencari opsi lain. Mencari negara dengan kualitas kesehatan yang serupa tetapi dengan biaya yang terjangkau.

Riset Visa dan Oxford Economics menemukan bahwa orang Amerika Serikat yang meninggalkan negaranya untuk mendapatkan layanan kesehatan terjangkau meningkat pesat. Peningkatan tersebut mencapai 25% dari tahun 2016. Setiap tahunnya hingga sepuluh tahun ke depan, kompetisi di sektor medical tourism diperkirakan akan lebih kompetitif di antara beberapa negara.

Medical tourism saat ini tidak hanya dinikmati oleh pasien dari kalangan atas saja. Pasien dari kalangan menengah pun mulai menikmati layanan medis di luar negeri yang dirasa lebih layak. Terlebih, di beberapa negara memiliki spesialisasi.

Korea Selatan misalnya, menjadi salah satu pusat dari medical tourism di Asia. Pelayanan kesehatan di Korea Selatan terhitung terjangkau dan sangat efisien jika dibandingkan dengan perawatan di bagian dunia lainnya, seperti Amerika Serikat dan Eropa. Banyak rumah sakit di Korea Selatan dilengkapi dengan teknologi terbaru serta staf berkualifikasi internasional.

Survei Institut Pengembangan Industri Kesehatan Korea (KHIDI) tahun ini menemukan sebanyak 270 pasien mereka berasal dari Rusia, 190 orang dari China, 62 dari Asia Tenggara, dan sisanya merupakan gabungan dari Jepang, Amerika Serikat, dan Timur Tengah.  Sebanyak 59,9% pasien mengatakan tujuan mereka datang ke Korea Selatan memang untuk mendapatkan perawatan medis.

Untuk saluran yang digunakan saat memilih pelayanan kesehatan, mereka yang mendapatkan rekomendasi dari keluarga dan teman cukup banyak, yaitu 55,2%. Sedangkan 17,1% memilih dari internet dan 16,1% mengatakan mendapatkan rekomendasi dari rumah sakit negara asal masing-masing.

Di Asia Tenggara, Thailand menjadi negara yang fokus akan perkembangan medical tourism. Pemerintah Thailand terus mendorong mekanisme serta infrastruktur untuk mempromosikan negaranya sebagai destinasi medical tourism. Perkembangan Thailand di sektor medical tourism menunjukkan bahwa kini negara berkembang juga dapat menjadi destinasi medical tourism.

Alasan meningkatnya medical tourism di Thailand karena selain untuk permasalahan kesehatan juga untuk kesempatan berlibur. Setelah mendapatkan perawatan kesehatan rumah sakit, turis dapat berlibur ke sejumlah destinasi wisata memaksimalkan pemulihan.

Nyatanya, hal serupa juga dilakukan oleh para pasien yang berkunjung ke Korea Selatan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Seoul menjadi kota global yang biasanya menjadi destinasi bagi para turis. “Jarak Seoul dengan Bandara Internasional Incheon bisa ditempuh dengan waktu satu jam. Biasanya menjadi alasan utama turis memilih untuk tinggal di Seoul selama kunjungannya,” ungkap Direktur Korea Tourism Organization (KTO) Jakarta Andrew Jong-hoon Kim.

Seoul menawarkan banyak opsi berlibur ala kota metropolitan. Tetapi, Seoul juga banyak menyimpan warisan budaya Korea Selatan. Untuk layanan yang terintegrasi dengan kesehatan sendiri, Seoul memiliki banyak tempat spa yang menggabungkan teknologi modern dengan atmosfer tradisional dengan kehadiran jjimjilbang atau sauna tradisional khas Korea.

Mengenai paket-paket wisata kesehatan yang ada di Korea Selatan, pihak KTO Jakarta menegaskan bahwa mereka tidak menyediakan secara khusus. Namun, saat ini banyak rumah sakit dan klinik yang bekerja sama dengan sejumlah agen travel untuk mempermudah para pasien yang membutuhkan. Nantinya, ketika menjalani perawatan, mereka bisa sekaligus mendapatkan pengalaman wisata menyenangkan.

Bagi Indonesia, negara tetangga terdekat untuk mendapatkan layanan kesehatan berkualitas tinggi adalah Singapura. Tidak hanya untuk pasien di Tanah Air, Singapura dikenal sebagai salah satu negara dengan perawatan kesehatan yang diakui oleh World Health Organization (WHO). Singapura bahkan masuk ke dalam negara teratas dengan sistem layanan kesehatan paling efisien pada tahun 2014. Bersaing dengan lebih dari 50 negara lainnya.

Pasien yang membutuhkan perawatan kesehatan di luar negeri cenderung mencari di tempat terdekat terlebih dahulu. Setiap negara pastinya menjanjikan layanan kesehatan dengan kualitas terbaik. Namun, masing-masing negara tetap memiliki sejumlah perbedaan, terlepas dari segi biaya. Pergi ke Singapura untuk mendapatkan layanan kesehatan diketahui bisa menghemat 25% – 40% dari biaya yang harus pasien keluarkan bila merawat diri di Amerika Serikat.

Di Singapura, Rumah Sakit Mount Elizabeth menjadi langganan bagi para pasien yang berasal dari Indonesia. Sepanjang tahun 2018, pasien asal Indonesia yang mendapatkan perawatan di Mount Elizabeth tercatat mencapai 10.000 orang. Rata-rata sekitar 1.000 pasien Indonesia mengunjungi Mount Elizabeth setiap bulannya. CEO Mount Elizabeth Hospital dr. Noel Yeo mengatakan, Indonesia merupakan pasar yang penting bagi mereka.

“Jumlah pasien asal Indonesia, kami perkirakan akan terus meningkat. Melihat kedekatan Indonesia dengan Singapura secara geografis. Pasien tidak perlu bepergian dengan waktu lama. Penerbangan ke Singapura pun cukup banyak,” ungkap Yeo.

Pasien lintas generasi dari Indonesia juga menjadi pasien yang loyal bagi Mount Elizabeth. Menyadari hal tersebut, pelayanan pun ikut mereka tingkatkan. Mulai dari pelayanan dasar hingga kemampuan bahasa. Untuk pasien dari negara lain, mereka menyediakan layanan yang lengkap. Dari penjadwalan perawatan, penerbangan, akomodasi, hingga pengajuan dan perpanjangan visa. “Kami berkomitmen memberikan layanan optimal dengan menembus batas apa pun yang bisa dilakukan untuk pasien,” tambah Yeo.

MARKETEERS X








To Top