Media

Tempo Lanjutkan Kolaborasi Untuk Proyek Investigasi

Di era sekarang di mana lanskap industri diwarnai dengan pemain-pemain baru dan teknologi yang tak jarang membawa disrupsi, perusahaan tidak bisa bermain sendirian. Salah satu cara untuk tetap eksis di tengah pasar yang cepat berubah adalah kolaborasi antarperusahaan.

Kolaborasi tersebut tidak hanya menjadi tuntutan bagi perusahaan-perusahaan yang core business-nya memang komersial, tetapi juga di industri media. Paling tidak, inilah yang saat ini disadari oleh media arus utama nasional, Kelompok Tempo Media.

Sebagai media yang terkenal dengan liputan investigasinya, Tempo menyadari bahwa proyek investigasi tidak bisa lagi dikerjakan sendiri untuk mencapai hasil yang optimal. Sebab itu, Kelompok Tempo Media kembali merilis program Investigasi Bersama Tempo (IBT) yang ke-empat pada tahun ini. Program kolaborasi IBT ini diresmikan dalam diskusi bertajuk “Investigasi dan Tantangan Kolaborasi” sekaligus peluncuran buku baru “Menjadi Wartawan Investigasi” di Kantor Tempo, Jakarta, Kamis (11/4/2019).

Wahyu Djatmika selaku pemimpin Tempo.co mengatakan pentingnya kolaborasi di era sekarang, khususnya untuk proyek-proyek investigasi. Pada tahun 2016, sambung Wahyu, tim Tempo berdiskusi tentang bagaimana proyek investigasi bisa dilakukan oleh media dan organisasi lain selain Tempo.

Wahyu melihat ada tiga masalah besar yang menjadi alasan mengapa media-media di Indonesia tidak melakukan liputan investigasi. Pertama, masalah kompetensi. Masalah kompetensi bisa diatasi dengan pelatihan-pelatihan maupun program fellowship. Namun, Wahyu melihat kompetensi saja tidak cukup untuk mendorong media-media melakukan investigasi.

“Persoalan kedua adalah liputan investigasi mengusung risiko yang terlalu banyak. Misalnya, tuntutan hukum, gugatan, tekanan, paksaan, kekerasan, dan sebagainya. Bagaimana ini diatasi, mungkin Tempo bisa “meminjamkan” kuasa atau kredibilitasnya. Sebab itu, terbentuklah program bersama ini,” ujar Wahyu.

Persoalan ketiga adalah mahalnya liputan investigasi ini. Menurutnya, liputan investigasi ini membutuhkan biaya yang tidak murah dan waktu yang lama. Tak jarang, media-media juga tidak memiliki sumber daya secara mencukupi untuk melakukan proyek ini. Salah satu solusinya adalah berkolaborasi dengan lembaga donor.

“Selain itu, yang menjadi ciri IBT adalah kolaborasi dengan masyarakat sipil. Sejak awal, IBT menggandeng lembaga seperti Indonesia Corruption Watch, Migrant Care, kemudian ditambah Greenpeace, WALHI, dan sebagainya,” ujar Wahyu.

Para mitra Tempo memiliki kelebihan soal data dan pengenalan lapangan. Tetapi, mereka masih lemah dalam pengolahan data menjadi narasi yang enak dibaca. Sementara, Tempo memiliki keterbatasan data tetapi kompeten untuk mengolah data menjadi narasi yang enak dibaca dan berdampak. Kolaborasi IBT menjadi solusi atas persoalan tersebut.

Selain itu, Wahyu juga menyakini bahwa investigasi menjadikan jurnalisme dan media-media konvensional makin relevan dan dibutuhkan di tengah ingar bingar media sosial yang sarat dengan kabar bohong dan informasi-informasi yang berseliweran tanpa verifikasi. Dan, kolaborasi antarmedia dan antarlembaga ini membuat investigasi akan memiliki pengaruh yang berlipat ganda.

MARKETEERS X

Most Popular








To Top