Uncategorized

Ternyata Milenial Rentan Terkena Gangguan Mental

Ilustrasi: 123RF

Siapa bilang milenial tidak rentan dengan gangguan mental dan tekanan psikologis di tengah kehidupan mereka yang glamour dan hiruk pikuk di media sosial. Paling tidak, temuan Sequis ini menjawab pertanyaan tersebut.

Data organisasi kesehatan Perserikatan Bangsa-bangsa  WHO menyebutkan setengah dari penyakit mental bermula sejak remaja, yakni di usia 14 tahun dengan banyak kasus yang tidak tertangani sejak dini. Bunuh diri akibat depresi juga menjadi penyebab kematian tertinggi pada anak muda usia 15-29 tahun. Ini berarti, milenial sangat berisiko mengalami gangguan mental. Padahal usia milenial adalah saat seseorang ingin dan berkesempatan untuk menunjukkan eksistensi diri dan awal menentukan arah masa depan.

Di sisi lain, pada usia milenial juga terjadi perubahan fisik, emosional, psikologis, finansial, dan lingkungan pergaulan. Perubahan ini adalah waktu transisi bagi mereka untuk menjadi pribadi yang matang tetapi jika terjadi gangguan dan tidak siap maka dapat menggangu mental mereka.  Misalnya, saat harus lulus dari sekolah dan akan melanjutkan ke perguruan tinggi tetapi dihadapkan pada kesulitan finansial, tidak mampu menghadapi persaingan saat mencari pekerjaan, tidak mampu se-eksis teman sebayanya, dan masih banyak masalah lain yang dapat membuat jiwa milenial terguncang kemudian menutup diri.

Untuk itu, pendampingan, perhatian, dan dorongan positif dari orang tua, keluarga, dan orang-orang terdekat sangat penting bagi remaja untuk membantu mereka menyiapkan masa depannya.

Perubahan lingkungan ikut memicu generasi milenial rentan pada gangguan mental. Salah satunya, adanya kemajuan teknologi yang menuntut kemampuan beradaptasi dari penggunanya tetapi sayangnya kebanyakan dari milenial tidak mampu memanfaatkan dengan baik seperti, mudah mendapatkan informasi tapi tidak mau melakukan verifikasi, menggunakan aplikasi yang tidak sesuai umur, mudahnya berkomunikasi dengan siapa saja secara privat, bisa berbagi foto, video, dan content yang dapat dijadikan materi untuk menjatuhkan seseorang.

Kehadiran media sosial  sebenarnya untuk memudahkan koneksi sosial tetapi kenyatannya media sosial sering menampilkan dunia fatamorgana yang penuh kebahagiaan dan kemewahan yang nampak abadi terbingkai rapi dalam feed Instagram, WhatsApp story, atau media sosial lainnya. Make up, dan filter berhasil membuat penampilan jauh lebih menarik. Artinya, banyak hal yang tidak realistis dan semu dalam media sosial demi membangun citra, keperluan eksistensi sosial atau kepentingan bisnis.

Intensitas menggunakan media sosial berlebihan dapat mengakibatkan ketergantungan dan membuat sebagian milenial tidak percaya diri, membandingkan dirinya dengan orang lain yang mereka lihat di media sosial, cemas, menjadi pribadi yang manipulatif agar terlihat sempurna hingga menjadi depresi.

Persoalan mental milenial tidak hanya soal keliru dan salah menggunakan teknologi dan media sosial. Ada juga konsep perfeksionisme yang sangat dekat dengan lingkungan milenial, yaitu ekspektasi tinggi terhadap dirinya dan pada berbagai hal di sekitarnya. Sebut saja, ingin tampil sempurna, ingin terlihat bersinar dalam lingkungan pergaulannya, malu jika kondisi ekonomi keluarga tidak seperti lingkungan pergaulannya.

Seseorang yang perfeksionis biasanya akan berjuang keras untuk meraih kesempurnaan dan bisa bereaksi negatif terhadap kesalahan kecil. Mereka bisa mengkritik diri sendiri secara keras jika gagal melakukan sesuatu hal. Bisa jadi juga mereka akan mudah menyalahkan sekitar jika ia menganggap tidak mendukung rencananya atau jika sekitarnya melakukan kesalahan.

Hasil yang tidak sempurna bisa membuat mereka tidak puas,  marah, mengomel, menggerutu, dan berteriak. Menuntut diri sendiri dan lingkungan untuk sempurna serta tidak siap menerima kekurangan maupun kesalahan membuat mereka menjadi pribadi yang tidak mampu untuk mengontrol emosi dan menjaga perasaan orang lain.  Pada akhirnya, ketika dijauhi oleh sekitarnya ia pun sulit menerima kenyataan bahwa perubahan harus dimulai dari diri sendiri.

Penyebab perfeksionisme sangat kompleks dan semakin meningkat akibat gaya hidup masyarakat modern yang memperhitungkan peringkat dan kinerja. Milenial dituntut dapat kompetitif dan menghasilkan kesempurnaan. Persoalan perfeksionisme dalam masyarakat modern merupakan masalah serius. Tidak menutup kemungkinan perfeksionisme dapat menyebabkan gangguan mental, seperti kecemasan, stres, depresi, gangguan makan, dan bahkan bunuh diri.

Segala aspek dalam kehidupan tentunya turut berperan untuk menciptakan sistem pendukung bagi penderita gangguan mental. Masyarakat harus menyadari dan berhenti  menganggap orang dengan gangguan mental sebagai sosok yang aneh, hina, dan asing. Semua penderita tentunya sedang berjuang untuk menerima dirinya dan ingin sembuh. Ini membutuhkan banyak dukungan yang kuat.

 








To Top