Media

Tips Bikin Video Iklan yang Powerful Menurut Google Indonesia

Foto: Sigit Kurniawan | Marketeers

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi selama dua dekade terakhir telah mengubah banyak hal. Perubahan ini tak sekadar perubahan kecil, melainkan perubahan yang cukup revolusioner. Dampaknya pun bisa dirasakan oleh masyarakat kontemporer di segala lini. Salah satunya, dunia periklanan.

Paling tidak, ini yang dipaparkan oleh Ishak Reza, Creative Lead Google Indonesia dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (21/8/2019). Mengutip riset dari Cisco Visual Networking Indeks, Reza mengatakan 82% konsumsi pengguna internet pada tahun  2021 adalah video. Dengan data ini, Reza mengingatkan kepada para pengelola merek bahwa platform video menjadi media yang tepat di era digital ini.

Selain itu, menurut Nielsen Catalina Solutions, kreatif yang efektif menjadi sangat penting karena menjadi kontribusi ternesar (49%) dalam sebuah kampanye iklan yang berdampak menaikkan penjualan merek. “Kami di Google melakukan analisis dari ribuan video iklan di YouTube. Kami juga melakukan eksperimen dengan merek dan agensi kreatif untuk mempelajari pola iklan yang idenya kreatif sekaligus efektif untuk mencapai tujuan merek,” ujarnya.

Mengacu pada tren di dunia digital seperti itu, Reza menawarkan beberapa tips yang pantas diperhatikan oleh pengelola merek ketika mau beriklan video. Berikut tipsnya.

#1 Menangkan perhatian audiens pada tiga detik pertama.

Reza mengatakan, audiens bisa menebak jalan cerita sebuah iklan. Contohnya, iklan shampo yang selalu memperhatikan perempuan cantik dengan rambut tebal dan berjalan ke sana ke mari. Ketika mereka sudah bisa menebak, sambung Reza, saat itulah mereka akan menekan tombol skip.

Reza menawarkan kiat agar dalam tiga detik pertama, audiens tertarik untuk mengikuti video hingga akhir. Pertama, buka video dengan adegan yang menarik dan emosional. Misalnya, adegan yang mengusung tawa, haru, inspirasi, sebagai teaser di awal. Kedua, buka dengan adegan yang memancing rasa penasaran. Ketiga, beri pembuka yang lain dari pada yang lain. Keempat, fokus pada ekspresi wajah. Kelima, pakai audio yang menarik perhatian. Ingat, 95% video di YouTube ditonton dengan menyalakan audio.

#2 Nyaman ditonton di layar kecil

Orang menonton video saat ini dengan menggunakan layar ponsel yang berukuran kurang lebih tiga inci. Untuk itu, Reza mengingatkan agar pembuat video memperhatikan framing lebih dekat, seperti zoom-in untuk adegan-adegan penting. Contohnya, ekspresi dan produk. Lalu, gunakanlah teks yang besar agar audiens mampu membaca. Voice over dan teks membicarakan hal yang sama. Fase alur cerita dibikin lebih cepat (faste pacing) dan tak bertele-tele. “Dan, jangan lupa hindari pencahayaan yang terlalu gelap. Alasannya, orang biasanya menurunkan pencahayaan layar agar menghemat energi baterai,” katanya.

#3 Personalisasi

Sebelum membuat video, Reza mengingatkan siapa yang menjadi segmen dari target tujuan video itu. Dengan mengetahui segmen ini, video bisa disesuaikan dengan kebutuhan, interest, passion, dan karakter mereka. Video pun dipersonalisasi agar lebih tepat sasaran.

Reza mengingatkan, membuat satu video iklan untuk semua generasi (18-40 tahun) bukan lagi strategi yang efektif saat ini. Alasannya, setiap generasi atau segmen pasar memiliki preferensi dan interest masing-masing.

Itulah tiga pertimbangan bagi merek saat membangun video iklan yang kreatif dan efektis. “Namun, ingat, hal yang paling penting adalah selalu bereksperimen karena apa yang berhasil untuk satu merek, belum tentu berhasil untuk merek lainnya,” pungkas Reza.

MARKETEERS X