Retail & Property

Untung Rugi Bila Hotel Tutup Sementara Saat Pandemi

Sumber: 123rf

Sejak WHO mengumumkan COVID-19 sebagai pandemi global pada pertengahan bulan Maret lalu, dunia perlahan mengalami penurunan di berbagai sektor ekonomi. Kondisi ini bahkan diramalkan akan terus terjadi hingga menimbulkan resesi ekonomi global.

Industri perhotelan menjadi industri yang paling terdampak di tengah pandemi ini. Dino Leonandri, General Manager Fairfield by Marriott Belitung dalam MarkPlus Tourism Crisis Webinar, Kamis (16/04/2020), mengatakan sejak Maret lalu, industri perhotelan menghadapi tantangan yang begitu besar.

Larangan bepergian untuk menekan angka penularan COVID-19 mendorong turunnya wisatawan yang menginap di hotel. Hasilnya, tingkat okupansi terus turun hingga di bawah 10%. “Kalau sudah begini, pilihannya hanya satu, yaitu tutup sementara atau tetap buka, namun ada aspek-aspek yang dikurangi. Keduanya sama-sama untuk menjaga revenue hotel,” katanya.

Dino kemudian memberikan kasus hotel-hotel di China yang memutuskan untuk tutup secara sementara. Hal ini terbukti dapat menyelamatkan kondisi keuangan hotel di saat okupansi di bawah 10%. Hal yang sama juga dilakukan oleh jaringan hotel di Malaysia.

“Istilahnya ada gerak cepat untuk memutuskan. Karena kalau keputusan untuk menutup atau tetap membuka operasional secara normal dilakukan dengan lambat, maka yang terjadi adalah kondisi bisnis yang terus memburuk,” lanjut Dino.

Masalah selanjutnya adalah bagaimana kondisi keuangan hotel beradaptasi dalam kondisi ini? Karena pada akhirnya, hotel tetap harus mengeluarkan biaya tetap seperti listrik dan karyawan.

“Divisi keuangan hotel harus tetap pintar mengelola keuangan. Pertama, pastikan biaya perhitungan hotel dilakukan dengan cermat. Kurangi hal yang tidak perlu, sehingga kewajiban seperti membayar gaji karyawan, biaya listrik, dan kegiatan operasional dasar tidak terganggu,” kata Dino.

Menurutnya, ada beberapa biaya yang bisa dikurangi, yaitu defer merit income untuk level jabatan GM hingga supervisor, memberhentikan sementara perekrutan dan promosi, pembelanjaan utilities, pembelanjaan FnB, hingga penghentian biaya kampanye dan iklan. Dino juga menegaskan bahwa Hotel harus memperhitungkan perhitungan untuk pembelian room supplies dan FnB supplies.

“Pengurangan ini bisa dilakukan untuk hotel yang menutup layanannya atau tetap beroperasi di tengah pandemi. Dengan mengurangi aspek-aspek di atas, yang menutup tentu memahami bahwa saat hotelnya tidak beroperasi, maka tidak perlu adanya pembelanjaan kebutuhan hotel. Pun begitu bagi hotel yang tetap beroperasi. Tingkat okupansi yang rendah berarti penurunan kebutuhan supplies untuk kamar hotel dan FnB,” jelas Dino.

Strategi ini dapat dilakukan di tengah pandemi hingga kondisi pasca pandemi. Karena pada faktanya, Cina yang sudah berhasil menanggulangi COVID-19 dan mulai membuka hotelnya dengan operasional yang kembali normal masih mencatat tingkat okupansi di bawah 10%.

“Kondisi ini memang akan terlewati, namun peningkatan akan terjadi dengan sangat perlahan. Namun seperti prinsip ahli keuangan, divisi finance harus prepare for the worst and the best,” tutup Dino.

Editor: Ramadhan Triwijanarko

MARKETEERS X








To Top