Lifestyle & Entertainment

Wings Air Tawarkan Perjalanan ke Enam Situs Bersejarah di Indonesia

Foto: Kemendikbud

Wings Abadi Airlines atau Wings Air adalah maskapai bertarif rendah (LCC) yang berbasis di Jakarta, Indonesia. Perusahaan ini didirikan sebagai anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Lion Air dan mulai beroperasi pada 10 Juli 2003. Wings Air melayani rute domestik ke banyak tujuan di Indonesia. Maskapai penerbangan ini juga menawarkan dua rute internasional dari Pekanbaru ke Malaka dan Medan ke Penang.

Nah, buat Anda yang berencana untuk menjelajahi Indonesia nan indah ini sambil menambah pengetahuan mengenai sejarah nusantara, Wings Air telah merangkum enam destinasi wisata situs bersejarah di Indonesia.

1. Kuburan Batu Sarkofagus di Sumbawa

Jika kita ingat-ingat lagi pelajaran Sejarah saat SMA, tentu kita ingat kalau ada daerah di Indonesia yang memiliki situs prasejarah berupa kuburan batu, alias sarkofagus. Kuburan batu itu berada di Sumbawa, salah satu daerah yang dilayani penerbangan rutin Wings Air.

Sarkofagus atau kubur batu dari zaman prasejarah itu berada di Desa Batu Tering, Kecamatan Moyo Hulu, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kuburan ini dipahat dengan gambar wajah manusia yang dipercaya oleh orang dulu memiliki arti untuk mencegah marabahaya.

Tak hanya itu, pada sarkofagus tersebut juga ditemukan lambang alat kelamin manusia dan gambar buaya. Lambang ini pada zaman kuno dipercaya memiliki arti kesuburan dan buaya dipercaya melambangkan hubungan manusia dengan arwah para leluhur.

Kubur batu yang diperkirakan berasal dari zaman megalitikum ini berada di Gunung Ai Renung, sekitar 30 kilometer dari Kota Sumbawa Besar. Untuk mencapainya, kita harus melakukan sedikit pendakian terlebih dahulu, kurang lebih selama 10 menit.

Perlu diketahui, kubur batu di wilayah ini ada beberapa dan letaknya tersebar. Jadi tidak berada dalam satu area saja.

2. Fort Rotterdam di Makassar

Benteng Fort Rotterdam atau Benteng Jum Pandang adalah benteng yang didirikan pada abad ke-17, yang berada di Makassar, Sulawesi Selatan. Benteng adalah benteng Belanda yang dibangun di atas lokasi benteng Kerajaan Gowa yang sudah ada. Benteng pertama di situs ini dibangun oleh sultan setempat sekitar tahun 1634, untuk melawan penjajah Belanda.

Situs benteng tersebut diserahkan kepada Belanda di bawah Perjanjian Bongaya, dan mereka sepenuhnya membangunnya kembali antara 1673 dan 1679. Itu memiliki enam benteng dan dikelilingi oleh benteng setinggi tujuh meter dan parit sedalam dua meter.

Benteng itu adalah markas militer dan pemerintah daerah regional Belanda sampai tahun 1930-an. Bangunan ini secara ekstensif dipulihkan pada tahun 1970-an dan sekarang menjadi pusat budaya dan pendidikan, tempat acara musik dan tari, dan tujuan wisata.

Fort Rotterdam terletak di pusat kota Makassar, tak jauh dari Pantai Losari yang jadi pusat keramaian di kota ini. Benteng ini berbentuk persegi panjang, dikelilingi oleh dinding setinggi tujuh meter.

Selain Fort Rotterdam, Makassar punya banyak situs bersejarah lainnya, seperti Kompleks Makam Raja-Raja Tallo, Makam Pangeran Diponegoro, Benteng Somba Opu, Monumen dan Museum di Jalan Korban 40.000 Jiwa (terkait peristiwa Pembantaian Westerling), dan Monumen Mandala.

3. Mercusuar-Mercusuar Kuno di Bangka Belitung

Kepulauan Bangka Belitung memiliki banyak mercusuar kuno yang sudah berumur beberapa abad. Beberapa mercusuar tersebut masih aktif membantu navigasi para pelaut dan nelayan. Salah satu mercusuar yang patut dikunjungi karena keindahan pemandangan sekitar dan eksotismenya di antaranya adalah Mercusuar Tanjung Kalian di Tanjung, Bangka Barat.

Mercusuar yang dibangun pada era kolonial Inggris ini menyimpan cerita mengerikan. Bangunan ini jadi saksi bisu pengeboman kejam yang dilakukan Jepang terhadap kapal perawat Australia. Tak jauh dari mercusuar, di bibir pantai, dahulu merupakan lokasi pembantaian massal korban yang selamat dari pengeboman itu. Menurut cerita warga setempat, mereka yang selamat diperintahkan berjalan ke pantai, di mana mereka diberondong peluru hingga tewas semua.

Sampai saat ini, bangkai kapal yang karam itu masih ada di sana, dan kapal itu kini menjadi daya tarik tersendiri bagi Pantai Tanjung Kalian. Konon, Mercusuar Tanjung Kalian juga pernah menjadi tempat eksekusi para tahanan Jepang, di mana mereka dihukum gantung.

Selain Tanjung Kalian, ada juga Mercusuar Pulau Pelepas, mercusuar kuno yang oleh pemerintah kolonial Belanda dinamai Mercusuar H.M. Koeningin Wilhelmina. Mercusuar ini berada di Pulau Pelepas, alias Pulau Lampu. Mercusuar ini masih berfungsi, dan kita bisa naik ke atas bangunan setinggi 50 meter ini. Dari sana, kita bisa menikmati pemandangan Selat Bangka dengan pasir putih bersih dan laut biru kehijauan.

Bangka Belitung masih punya banyak mercusuar lainnya yang bersejarah, yakni Mercusuar Lampu Besar dan Mercusuar Pulau Dapur yang sudah berumur lebih dari seabad.

4. Lukisan Purba di Kaimana

Ribuan lukisan kuno yang misterius ditemukan di di tebing-tebing batu cadas di pesisir laut Kabupaten Kaimana, Papua Barat. Lukisan-lukisan di batu tersebut diperkirakan sudah berusia ribuan tahun, sejak zaman prasejarah. Kita bisa melihat langsung ribuan lukisan kuno di situs Maimai. Lukisan kuno terpanjangnya mencapai satu kilometer.

Torehan-torehan yang membentuk lukisan tersebut berwarna merah terang, dan kebanyakan berada di tebing karang yang sukar dijangkau, pada ketinggian 10 meter diatas permukaan laut. Kemungkinan, ketika lukisan-lukisan itu dibuat, bentuk permukaan Bumi di situs tersebut berbeda dengan yang kita lihat saat ini.

Lukisan dinding yang ditemukan di gua-gua biasanya berasal dari zaman Mezolitik awal. Warna merah pada lukisan purba di Kaimana diduga berasal dari zaman Epipaleolitik. Namun ditemukan adanya goresan lukisan berwarna kuning yang sering ditemukan pada zaman Epipaleolitik akhir (awal zaman Mezolitik).  Namun untuk mengetahuinya secara pasti, masih perlu dilakukan penelitian lebih jauh.

Corak-corak lukisan di atas batu itu cukup beragam. Ada gambar binatang dan benda-benda seperti matahari, kadal, cicak, naga, kampak batu, dan ikan paus, tapi yang paling banyak ditemukan di Kampung Maimai adalah gambar-gambar tangan. Tangan-tangan tersebut ada yang tergambar dengan lima jari, ada juga yang tidak memiliki lima jari, baik tangan kiri maupun tangan kanan.

Selain lukisan dinding purba nan misterius, Kaimana juga memiliki alam yang indah, khususnya pada saat matahari terbenam.

5. Kota Tua Ampenan, Situs Bersejarah Mataram

Kota Tua Ampenan di Pulau Lombok merupakan kota tua yang menyimpan banyak sejarah. Di kota tempat tinggal masyarakat keturunan Melayu, Arab dan China ini kita bisa melihat deretan bangunan dan gedung bersejarah yang masih ada hingga sekarang. Kota ini cenderung tenang dan lapang, sehingga kita bisa menikmati suasananya dengan maksimal.

Dahulu, Kota Tua Ampenan menjadi jalur perdagangan pertama di Mataram. Kota ini juga jadi melting pot penduduk keturunan Melayu, Arab dan China, yang hidup berdampingan. Sayangnya, kini beberapa gedung tua sudah tak terawat, bahkan hampir roboh. Ketika menjelajahi Kota Tua Ampenan, sempatkan diri untuk menikmati sunset di Pantai Boom yang menawan, dengan pasir hitam dan laut birunya yang kontras.

6. ‘Nostalgia’ Peninggalan Portugis di Maumere

Bangsa Portugis pertama kali masuk Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui pantai Selatan Maumere tepatnya di Desa Bola di Sikka, Flores. Di Bola inilah sebuah batu peninggalan penjajah Portugis, dinamai Watu Krus (Batu Salib) ditemukan. Masyarakat setempat percaya ini adalah peninggalan suci dari bangsa Portugis.

Watu Krus berdiri kokoh di atas batu karang berada di bibir Pantai Bola. Letaknya sekitar 100 meter dari bibir pantai.  Dahulu, pendatang dari Portugis awalnya ditakuti oleh warga setempat. Namun mereka datang untuk menyebarkan agama Kristen dan membaptis orang-orang di sekitar Bola dan bagian Timur Sikka, hingga dibuatlah Watu Krus itu sebagai penanda.

Tak hanya Watu Krus, Gereja Tua Sikka juga menjadi daya tarik Maumere yang berasal dari abad ke-14. Gereja eksotik yang dekat dengan pantai ini jadi favorit para pelancong, karena pemandangan pantai yang indah dan bangunan gereja yang unik. Ini menjadikan Gereja Tua Sikka sebagai tempat yang paling banyak dikunjungi orang.

Gereja tua Sikka aslinya bernama Gereja Santo Ignatius Loyola. Di sekitar gereja ini, kita bisa mengeksplor wisata budaya seperti melihat kerajinan dari kerang dan tenunan.








To Top