Lifestyle & Entertainment

Yang Perlu Diketahui Sebelum Menyambut Gen Z di Dunia Kerja

Siapa bilang bekerja saat ini adalah perkara gaji. Pasalnya menurut riset yang dilakukan oleh Dell EMC Indonesia, kalangan Gen Z bekerja tidak melulu soal gaji. Sebab, 47% responden menilai bahwa pekerjaan mereka memiliki nilai dan tujuan. Selain itu, mereka (41% responden) percaya bahwa pekerjaan mereka harus bisa memberi mereka keterampilan dan pengalaman baru di tempat kerja

Meski memiliki mentalitas technology first, Gen Z Indonesia masih membutuhkan interaksi manusia di tempat kerja. Bagi mereka komunikasi dan kolaborasi antar pribadi sangatlah penting. 79% responden berharap bisa belajar tentang pekerjaan dari rekan kerja atau orang lain. Bukan belajar secara online.

Sebanyak 57% juga menilai komunikasi langsung bertatap muka adalah metode komunikasi yang mereka inginkan dengan rekan kerja, sementara komunikasi via pesan singkat merupakan pilihan terakhir (3%).

Fakta lainnya adalah, 43% ingin bekerja di perusahaan besar dibandingkan perusahaan kecil, dan 24% lebih memilih memiliki keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi mereka daripada mengejar jalur karir yang agresif.

“Kalau diperhatikan, dengan mentalitas technology first, Gen Z terkesan amat optimistis. Namun, ketika memasuki dunia kerja, Gen Z tidak seoptimistis itu,” ujar Catherine Lian, Managing Director, Dell EMC Indonesia.

Pasalnya hampir mayoritas responden (98%) khawatir dengan potensi mereka untuk mendapatkan pekerjaan. Mereka ini merasa tidak memiliki pengalaman kerja yang sesuai dengan yang dicari oleh perusahaan. Meskipun yakin dengan keterampilan teknologinya, banyak Gen Z yang tidak yakin dengan keterampilan non teknologinya.

Sementara itu, dari kalangan generasi sebelumnya, muncul rasa khawatir posisi bersaing mereka akan kalah dan dan mayoritas posisi kepemimpinan di masa depan akan ditempati oleh para Gen Z. Tapi tak perlu khawatir. Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, 76% Gen Z Indonesia menyatakan bersedia membimbing rekan kerja senior mereka untuk mengatasi ketertinggalan teknologi mereka.

Dengan kesediaan Gen Z bersedia menjadi ‘mentor’ teknologi, perusahaan bisa membentuk tim-tim lintas-fungsi dengan keterampilan yang saling melengkapi untuk mendorong terciptanya pertukaran pengetahuan dan memulai pendekatan baru untuk menyelesaikan masalah. Program magang, rotasi, dan kesempatan pengembangan karir awal bisa membantu para profesional muda mendapatkan pengalaman dan mengembangkan keterampilan non-teknis di pekerjaan mereka.

Bagi Catherine, ketika menyambut kalangan Gen Z di dunia kerja perusahaan harus bisa menghadapi tantangan menciptakan lingkungan digital – mulai dari proses rekrutmen, orientasi, hingga pengalaman kerja sehari-hari.

“Memahami keterampilan yang dimiliki Ge Z bisa membuka berbagai peluang bisnis baru. Khususnya jika sukses mempersempit kesenjangan digital antar pekerja dan memantapkan kapabilitas teknologi di seluruh perusahaan,” tutup Catherine.

Editor: Sigit Kurniawan








To Top